Thursday, December 12, 2019

Sakit Kuning (Jaundice) dan metabolisme bilirubin (Bagian 2)

(From: Science Direct)


Pada bagian 2 ini, saya mencoba mengulas bagaimana proses urutan terjadinya setelah sel darah merah selesai pengabdiannya dan kaitannya dengan sakit kuning (jaundice). Sengaja saya pilih gambar di atas untuk acuan keterangan di bawah, karena gambar di atas sedikit lebih lengkap dari gambar lainnya yang saya google.

Setelah sel darah merah komplit masa hidupnya 120 hari, atau bisa saja lebih awal lagi karena kondisi kelainan hematologik, mereka dimusnahkan secara reticuloendothelial system dan melepaskan kandungan/isi-nya ke aliran darah, ditelan oleh macrophage, memecah hemoglobin kembali menjadi heme dan globin.

Lingkaran heme dibelah oleh enzim microsomal heme oxygenase untuk membentuk biliverdin (Latin yang artinya hijau), kemudian dikonversi menjadi tetrapyrolle pigment bilirubin oleh cytosolic enzim biliverdin reduktase. Ini adalah unconjugated (=”indirect”) bilirubin yang dilepaskan ke plasma yang mengikat albumin dengan ketat dan ditranspor ke hati.

Karena unconjugated bilirubin tidak larut dalam air, ia tidak bisa dibuang melalui air kencing atau empedu. Namun, ia bisa larut dalam lingkungan yang kaya lipid sehingga bisa menembus blood-brain barrier dan plasenta.

Lanjut ya!

Setelah terpisah dari albumin di space of Disse, (space of Disse terletak pada hati, antara sel hati dan sinusoid), unconjugated bilirubin ditranspor ke membran plasma sel hati dan menempel di ekstraselular binding protein (ligandin). Ia kemudian berkonjugasi dengan glucuronic acid oleh enzim urididine diphosphate (UDP) glucoronyl transferrase untuk membentuk bilirubin monoglucoronide dan diglucoronide yang larut dalam air.

Conjugated bilirubin dialirkan ke empedu oleh aktif transpor menembus membran canalicular dibantu oleh multispecific canalicular transporter.

Ketika eksresi conjugated bilirubin terganggu, muntahan pigmen dari sel hati menyebar ke plasma, menyebabkan jumlah pigmen meningkat dalam plasma. Dan karena conjagated bilirubin larut dalam air dan ikatannya tidak kuat ke albumin dibanding dengan unconjugated bilirubin, sehingga ia mudah difilter oleh glomerulus ginjal lalu muncul di urin (air kencing), hal ini yang memberikan warna gelap pada kencing (choluria).

Bila bilirubin masuk dan berada di empedu, bilirubin masuk ke intestine (usus kecil), di sini bakteri mengkonversinya sehingga ia kehilangan warna yang dikenal dengan urobilinogen dan dikeluarkan melalui feses (berak). Hampir 20% urobilirubin diambil lagi dan masuk sirkulasi enterohepatic atau dikeluarkan melalui urin (air kencing).

Bila sel darah merah mati lebih banyak dan fungsi hati pada bayi belum sempurna, maka bilirubin akan melimpah di sekujur tubuh bayi dan menyebabkan bayi menjadi kekuningan (jaundice). Ilustrasi di bawah bisa memperjelas bagaimana jaundice terjadi pada bayi.



Seperti telah kita diskusikan pada bagian 1. Hyperbiliribinemia dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga fase dari bilirubin hepatic metabolisme: Uptake, Cojugated, dan Excretion. Namun dalam praktikal lebih cenderung digunakan istilah: prehepatic, hepatic, dan posthepatic. Berikut ini adalah bagaimana jaundice dibedakan:



2 comments:

  1. ini pelajaran biologi tingkat tinggi, atau udah ilmu kedokteran yah

    ReplyDelete
  2. Mekanisme yang kompleks

    Alu pikir zakit kuning sebatas kurang nutrisi, vit D dan cahaya matahari. Kwkwkw

    ReplyDelete

@eerlinda2005