Monday, December 10, 2018

Derita dan Kemewahan Kota Paris (Bagian 2)

Koleksi tas LV  (Ilustrasi/Foto: spottedfashion.com)

Senja menjelang lebih awal. Dingin di musim gugur dihangatkan dengan secangkir kopi dan semangkok bouillabaisse. Alya dan Dian memilih meja di dekat jendela.

Dian masih saja asik dengan video call. Alya tidak ingin melewatkan sedetik pun keindahan dan kemilau Paris, ia memilih duduk saja dengan tenang, membiarkan matanya menikmati suasana dan lalu lalang pejalan kaki dari pinggir jendela.

Sinar matahari sirna total, digantikan oleh gemerlap lampu Paris kota. Alya tidak memalingkan wajahnya ke arah lain, masih dengan posisi yang sama.

Samar, 

ia melihat sosok anak lelaki kecil kelaparan. Alya menoleh ke mangkok yang masih tersisa setengah bouillabaisse. Ia mendorong mangkok sedikit ke tengah, dan ia kembali ke posisi semula, menoleh ke luar.

Remang,

Alya melihat sebuah desa yang teduh, yang dihuni oleh keluarga para petani dan pemotong kayu, istri-istri petani yang menambah penghasilan keluarga dengan membuat topi wanita, desa yang diliputi kemiskinan. Anak lelaki tadi mengambil perhatian Alya, seorang bocah berumur 13 tahun, berjalan melintas jalanan yang berbatu, jalan yang panjang dan tidak rata, tanpa bekal tanpa teman tanpa alas kaki.

Bunda telah meninggalkannya 3 tahun yang lalu, dan ayah menikah lagi. Kehidupan ayah sebagai petani sangat memprihatinkan, dan ibu baru tidak sayang padanya, ia dalam usia tumbuh, selalu merasa lapar, dan makanan sangat terbatas. Ibu baru selalu marah, pertikaian tidak bisa dihindarkan.

Pertikaian dengan ibu membangkitkan hasrat yang kuat untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan desa kelahiran, Anchay, menuju ke ibukota, Paris.

“Bocah bandel dan keras kepala” Alya bergumam.

Perjalanan dari desa, dengan langkah-langkah kecil kaki kecil, jarak yang hampir 500 km ditempuh selama tiga tahun. Bocah yang lari dari kampungnya itu kini telah menjadi teenager sesampai di Paris. Ia berumur 16 tahun, dan ia harus melebur dengan kota Paris yang saat itu sangat butek akibat revolusi industri, dengan kontradiksi petisi, keagungan kemegahan digandeng kehinaan kemiskinan, pertumbuhan yang pesat bergandengan dengan kehancuran yang menyeluruh.

Anak lelaki yang tumbuh di sepanjang perjalanan itu baru saja menginjakkan kakinya di kota Paris, “Ia adalah Louise Vuitton” Alya bergumam lirih sambil berkedip membasahi matanya yang kering.

Untuk menopang hidup, ia magang di sebuah perusahaan pembuatan kotak dan pengepakan, hanya beberapa tahun saja Louise Vuitton sudah membuat reputasi yang bagus di antara urban fashion, Memiliki toko sendiri, menyediakan dan mendisain, khususnya pengepakan busana. Disain pengepakan yang efektif dan dinamis, bentuknya yang persegi, memudahkan untuk transportasi di kereta atau kapal, “Dari sini lahirnya ide luggage yang kita miliki sekarang” Alya yakin tentang invension Louise Vuitton.

Enambelas tahun berlalu sejak Louise Vuitton menginjakkan kaki di Paris, Charles-Louis Napoléon Bonaparte mengambil alih Republik Perancis dengan cara kudeta. Perancis kembali menjadi kekaisaran yang keduakalinya di bawah kekuasaan Napoleon III.

Temaram,

Alya masih bisa memperhatikan seorang wanita yang sangat cantik, modis, intelek, mudah bergaul, dan perhatian ke rakyatnya. Rakyat Perancis mencintainya, dia adalah Eugénie de Montijo, istri Kaisar Napoleon, dan ia memilih dan meminta LouiseVuitton mendisain tempat untuk meletakkan pakaiannnya yang sangat mewah dan sangat mahal, terutama untuk bepergian. Eugénie de Montijo sering melakukan perjalanan jauh, baik untuk urusan kenegaraan maupun personal.

Eugénie de Montijo  (Ilustrasi: metmuseum.org)

Untuk suatu undangan pesta, sebuah perayaan pembukaan Terusan Suez, Louise Vuitton adalah orang yang mendisain segala tas dan pengepakan pakaian dan segala kebutuhan Eugénie de Montijo. 

Eugénie de Montijo memperkenalkan Louise Vuitton ke sahabat-sahabatnya seperti Sultan Mesir, Ismail Pasha, dan juga Ratu Inggris, Queen Victoria. Hal ini membuka lebar akses hasil karyanya dalam disain pengepakan barang di kalangan orang-orang yang sangat penting di dunia saat itu.  

Buram,

perang melanda negeri, usaha yang dibina dengan seluruh jiwa dan raga, hancur lebur, barang barang dicuri tanpa sisa, lelaki ini tetap kuat. Ia, Louise Vuitton, saat itu bangkit dan bertekat untuk membangun lagi usahanya dari nol hingga akhir hayatnya kelak. Ia membangun dan merintisnya lagi “Lelaki yang keras hati” Alya mengaguminya.

Secercah,

usaha Louise Vuitton yang luar biasa, anak dan cucunya yang juga tidak kalah gigihnya dengan mempelajari dan menerapkan manajemen dan strategi pasar yang jitu untuk mempertahan dan mengembangkan produknya sebagai luxury goods. Alya, seperti juga teman-temannya sangat proud terhadap produk LV.

Jelas,

Alya bukannya Eugénie de Montijo. “Ya, aku hanya seorang warga Indonesia yang selera dan cita rasanya terhadap mode telah dibentuk dan distir..!!”  Alya merasa sesak dan berusaha menarik nafas dalam, menahannya, dan menghembuskannya. “Aku akan belajar darimu Eugénie de Montijo, walaupun dalam skala kecil, semoga akan ada lahir seorang Indonesia seperti Louise Vuitton, paling tidak, ini adalah niatku”.

Alya menatap Dian yang masih saja disibukkan dengan video call, “Terimakasih Dian, atas itinerary yang telah kamu buat!!” Alya menghela nafas dan melepaskannya pelan.

******

(Foto: Abdulmonam Eassa/AFP/Getty Image)

Tidak berselang lama sesampai di tanah air, Alya dan Dian membaca berita kerusuhan di Paris dan kota sekitarnya. Para pendemo menghancurkan mobil di sekitar Champs Elysees, gas air mata ditembakkan, dan sekitar 400 korban luka dan fatal.

Dari 300.000 orang pendemo, 2000 orang di bawah "pengawasan" negara dan 682 ditahan akibat melakukan kekerasan dan penghancuran.

Paris dalam derita,

sisa asap dan gas air mata masih terasa hingga hari ini,

Dec. 10, 2018

# Selesai !











Saturday, December 1, 2018

Derita dan Kemewahan Kota Paris (Bagian 1)

Eiffel dan terowongan tulang belulang (Photo: Thomas Sentpetery).

Alya menatap tidak percaya pada iklan yang di forward oleh Dian via WA. Diskon penerbangan domestik dan internasional secara besar-besaran. bayangkan saja diskon 20% bakal diambil, apa lagi diskon 40%-70%... Siapa nolak? Don't think twice... Jari telunjuknya menyapu naik turun meneliti jumlah persen potongan harga di setiap penerbangan, dan angka-angka nominal yang harus dikeluarkannya.

Serasa di puncak menara membayangkan akan ngepack  barang-barang. Sebelum mengisi permohonan cuti, Alya berpikir lebih baik yakin dulu siapa saja yang akan bersedia bersamanya untuk menikmati tawaran yang super menggiurkan ini. “Biar ditanyain dulu siapa aja yang akan mau pergi denganku menikmati angin autum breeze nun jauh di Eropah....wow banget deh”

“Engga ah, ngapain lagi harus di spot yang sama?” Dian berkomentar, “Lagi-lagi Eiffel”.

“Tapi kali ini bukan background dimana dan ke mana kita Hun, tapi apa yang kita carry!”, Hun adalah singkatan dari kata Honey, Istilah cool Alya untuk menggantikan kata “say” buat teman-teman dekatnya dalam percakapan sehari-harinya. “Ini bukan acara pemotretan yaa, ini hunting...berburu...!!”

“Belanja?!” Dian menegaskan.

Mengajak Dian untuk bepergian susah-susah gampang, tapi akhirnya mereka dapat dipastikan tinggal memilih tanggal yang cocok untuk ketersediaan tiket dan persetujuan jadwal cuti, tidak perlu lama-lama yang penting belanja-belanja dan acara fiesta di akhir tahun.

“Menikmati kopi di pinggiran jalan, menatap Eiffel Tower, sekaligus menikmati sentuhan dipenghujung musim gugur, menjelang musim dingin... di jamin romantis, bakal seperti di film-film romans, hhmmm...” Alya berkata ke Dian.

Alya melanjutkan, “Oh ya Dian, ntar aku bisa pake koleksi sepatuku lho. Aku udah ngebayangin aja make thigh-high boots-ku, plus sweater bulu, shawl, beanie, kapan lagi tampil gituan?”

”Wah-wah, ntar suitcase kita bakal berat nih, kalo perginya udah berat gimana pulangnya?” Dian menyela.

Alya membiarkan Dian yang membuat traveling plan. Alya percaya padanya. Untuk soal manajemen planning, Dian paling handal, apalagi cuma buat itinerary tiga hari di Paris. That's such an easy peasy thing buatnya, pikir Alya.

“Tujuan kita Champs Elysees, OK?” Berulang Alya mengingatkan Dian.

Dian sangat tahu bangunan apa yang dimaksud Alya, tempat berdiri tegak toko Louis Vuitton. Sebuah bangunan LV dan Sephora di Champs-Elysees, membuat aktivitas belanja-belanja jadi komplit, paket jumbo, super indah,  berbagai tas, busana, dan gemerlap permata.

******

Langit Paris seperti hampa.

Alya dan Dian berdiri di antara antrian yang tidak begitu panjang menatap menara Eiffel. Mereka menunggu giliran untuk melewati sebuah pintu yang berada di bangunan kecil berwarna hijau tua seperti pos jaga. Setelah dibentuk pergrup, Alya dan Dian melangkahkan kakinya ke pintu kecil itu, di sana mereka harus menuruni seratus lebih anak tangga menuju ke perut bumi.

“Inikah dungeon itu?” Alya bertanya dengan suara rendah. Mereka mengunjungi wajah lain dari gemerlap kota Paris, persis selapis di bawahnya.....

Inilah Paris dengan sejarah panjangnya. Inilah labirin catacombs....

Dungeon dan tulang-belulang warga Paris tersimpan di Paris Catacombs. Tengkorak-tengkorak yang berjumlah lima kali lipat dibanding dengan jumlah penduduk Paris yang bersileweran di luar atas sana.

Di lorong bawah tanah ini terasa dingin, barangkali di bawah 14 derjat celcius.

Di kiri dan kanan terowongan tersusun rapi tulang-tulang penduduk Paris...benar-benar alam kematian “realm of death”....

Susunan tengkorak di bawah Menara Eiffel 
(foto: Getty Images/Lonely Planet Images)

Sebuah guci “Seperti guci keramik hiasan di rumah nenek, tapi besar....besar banget” Alya bepikir. Astagfirullah al azim...semua yang terpajang di galeri ini adalah susunan dan rangkaian tulang belulang dan tengkorak!” Alya merinding, perutnya terasa mual.

Terdengar celetuk dari salah seorang dalam grup “Fanthom of the Opera”.

******

Langit Paris tidak cerah.

Alya dan Dian berdiri di antara anak tangga Louis Vuitton Champs Elysees. Menara Eiffel terlihat angkuh dan Alya menoleh ke pintu masuk took.

“Ayo masuk!” Dian mengajak Alya untuk segera melangkah masuk.

Alya ragu sejenak. Pintu toko terbuka lebar, pertanda dengan hangat mempersilakan pembeli masuk. Alya masih saja berdiri memandangi pembeli yang masuk, kakinya begitu berat untuk melangkah.

'Kenapa?” Dian bertanya.

******

# Bersambung ke bagian 2.

Thursday, November 22, 2018

“Ratu” Pembunuh Harimau Yang Paling Berpengaruh Pada Abad 17

Lukisan “Ratu Mogul Nur Jahan bermain polo bersama para putri.” 
Dilukis oleh Ustad Haji Muhammad Sharif (1889-1978). 

Mogul (as known as Mughal) adalah salah satu dinasti yang terbesar dan terkuat di India. Dinasti ini menguasai dataran India lebih dari 300 tahun, berawal pada abad ke-16. Pada masa kekuasaan Mogul ini, Raja dan Ratu yang berkuasa juga mengembangkan seni, musik, dan arsitek. Hal ini digambar oleh buku:

Empress: The Astonishing Reign of Nur Jahan
Penulis: Ruby Lal
Kategori: Non Fiksi (Biography)
Penerbit: W.W. Norton & Company, Inc. New York
Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 308
ISBN: 978-0-939-23934-8

Mereka membangun kota-kota besar, serta pelabuhan, juga mesjid dan perkuburan yang megah. Buku ini berkisah tentang kehidupan Ratu Nur Jahan. Wanita yang paling berpengaruh pada abad 17 di dataran anak benua India. Satu-satunya penguasa perempuan yang paling berpengaruh pada dinasti ini. Kisah-kisah tentangnya juga merupakan cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi (folklore) yang tersebar di India, Pakistan, dan Bangladesh.

Baca Juga:

Cover buku

Nama lahirnya Mirh un-Nisa, kemudian dikenal dengan Nur Jahan yang artinya cahaya dunia, nama pemberian dari suami keduanya, Raja Jahangir, yang menikahinya di saat ia berusia 35 tahun. (Ketika itu ia adalah janda karena suaminya terbunuh dan mereka memiliki seorang anak perempuan). Ia adalah istri ke-20 Jahangir dan istri favorit.

Walaupun Jahangir berpoligami, tapi sehari-harinya hanya Nur Jahan bersamanya, mendampinginya menguasai Mogul Raya sebagai co-sovereign. Ia turut berdaulat. Ia juga memimpin tentara kerajaan untuk menyelamatkan raja dari penangkapan, sesuatu tindakan yang luar biasa berani, ia juga turut membuat keputusan di mahkamah kerajaan.

Diceritakan bagaimana ia melindungi rakyat dan raja, termasuk dari ganasnya binatang buas yang menyerang, seperti harimau; dari enam pedang yang dilembarkannya empat pedang membunuh empat harimau. Ia juga tangkas berkuda. Ia mengendarai gajah dalam perjalanannya dari wilayah satu ke lainnya dengan mengenakan tunik panjang dan juga celana yang panjang, busana Islamnya. Ia mengenakan sepatu yang tertutup bagian depan tapi terbuka di bagian belakang sehingga kelihatan keindahan henna-nya.   

Meski Nur Jahan memegang tampuk kekuasaan karena suaminya yang sakit-sakitan dan lebih dari 40 tahun bergantung pada opium, ia tetap melindungi dan menyelamatkan suaminya dari berbagai serangan luar. Mencintai suaminya sepenuh jiwa, walaupun kekuasaan sudah di tangannya.

Setelah Raja Jahangir wafat, Shah Jahan, putra Jahangir yang ketiga menggantikannya. Shah Jahan ini yang membangun Taj Mahal, satu dari the Seven Wonders of the World.

Di epilog, diceritakan bahwa legasi tentang Nur Jahan diperkuat oleh Jahanara. Jahanara adalah putri dari pasangan Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, ia dikhususkan jadi Sufi, tapi begitu Mumtaz Mahal meninggal saat melahirkan anaknya yang ke-14, Jahanara kembali ke kerajaan menggantikan peran ibunya, ia adalah Sufi Princess yang membangun Mesjid Mullah Shah di Srinagar (Mesjid Patthar dibangun oleh Nur Jahan) dan Mesjid Agra. Nur Jahan dan Jahanara adalah penginspirasi konstruksi Taj Mahal di Agra, India.



Sunday, November 11, 2018

Sperma Untuk Energy Drink: Taurus, Taurine dan Red Bull

Illustrasi: 123rf.com

Tahu kan “foto” siapa di atas?

Benar!

Nama “cool” nya si “Bull” dan diyakini Bull ini adalah makhluk yang sangat powerful. Dan kalau kita-kita lagi kesal, kotorannya pun diteriakin..... Bullsh**t! :(

Ia memang tokoh yang luar biasa, pasti juga tahukan “berita-berita” tentang sperma-nya si Bull?

Benar!

Berita tentang energy drink yang ingredien-nya terbuat dari sperma si bull.
Sebut saja Krating Daeng atau Red Bull, yang di kalengnya juga dipajang gambar si bull.
Gambar di bawah adalah contoh yang saya maksudkan. Perhatikan tulisan di kiri bawah (dalam garis biru)! With Taurine. Ya, ini biangnya!!

Baca Juga:

Minuman Kaleng

Hasil penelitian yang panjang dengan menggunakan ekstrak empedu (dan spermanya) bull yang dilakukan selama 90 tahun menunjukkan bahwa ada senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan dan meningkatkan sports performans, maka mereka (para peneliti), menyebut senyawa itu dengan nama taurine, sesuai dengan asal usulnya: taurus (taurus adalah bahasa Latin untuk bull).

Jadi taurine ini yang menjadi “ingredient” andalannya energy drink.

Apakah sebenarnya taurine itu?

Taurine ini adalah senyawa yang mirip-mirip amino acid yang berperan penting dalam proses metabolik dan juga diduga memiliki kandungan antioxidant. Taurine memiliki peran penting di dalam tubuh.

Taurine terdapat di jaringan tubuh hewan dan manusia, terutama di bagian otak, mata, jantung, dan otot. Sebenarnya tubuh manusia dapat memproduksi taurine, meskipun kita mendapatkan sebagiannya dari makanan yang sehari hari kita konsumsi.

Tambahan taurin di minuman ini adalah karena sudah terbukti senyawa ini membantu fungsi otot, mendukung performans dan daya tahan para atlit, membantu meluruhkan kecemasan.

Tapi benarkah sumbernya dari sperma bull?? Sebuah pernyataan dari orang-orangnya Red Bull bahwa taurine memang terdapat di spermanya bull, seperti juga terdapat di usus manusia, air susu manusia (ASI), daging, dan ikan. Tapi proses kimia juga bisa menghasilkan taurin sama halnya proses dalam tubuh makhluk hidup. Taurin untuk Red Bull diramu di lab.

Red Bull tidak menggunakan produk hewan, sehingga bisa dikonsumsi oleh orang-orang vegetarian, atau yang tidak memakan produk dari binatang dan unsur-unsurnya. Alasan ekonominya, sperma bull sangat mahal untuk memproduksi minuman kaleng ini secara besar-besaran di banding dengan secara sintetik.

Mereka menegaskan lagi “Red Bull mengambil nama dari ingredient tapi bukan berarti mengambil ingredient dari bull!!!” ;]

Menindaklanjuti hasil riset para ahli, banyak orang-orang mengkonsumsi suplemen taurine sebagai obat untuk penyakit jantung, darah tinggi, hepatitis, kolesterol. Ada juga yang menggunakan sebagai obat epilepsi (ayan), autis, dan ADHD.

Berikut ini adalah contoh dari suplemen Taurine yang banyak di konsumsi karena khasiat-khasiatnya.







Thursday, November 1, 2018

“Creepy Ghosts” di Kota yang Menguning (Bagian 2)

Illustrasi: Ed Hall.

Temperatur drop lagi, dingin menembus pakaian Gilar, menembus menuju ke tulang-tulang Gilar. Sekilas melintas dua sosok rangka tulang belulang melangkah, satunya tinggi besar dan satunya lagi rangka kecil. Rangka tulang kecil itu berkisar umur 4 tahun, tulang-tulang yang belum tumbuh sempurna, melangkah pendek tapi cepat mengikuti arah kerumunan.

Mereka sampai di keramaian kota, di sana menumpuk berbagai macam karakter hantu, para hantu berbaur, antara yang baik dan yang buruk. Karakter tokoh-tokoh yang sepertinya tidak asing lagi, ada juga karakter wanita seksi bermuka kejam, malaikat cantik dengan sayap dan tongkat, dan berbagai karakter aneh yang Gilar tidak tahu. Semua jenis sosok dan karakter berkumpul di sini. 

Gilar berbaur dengan mereka, saling membuat kejutan, saling mengekspresikan kehebatan dan keseraman masing-masing, menikmati kejutan-kejutan kecil di sepanjang pinggir-pinggir jalan, di antara lentera-lentera kecil, juga lentera besar yang berekspresikan berbagai wajah seram.

Kuning senja menghilang, suasana kota yang kuning temaram berubah ke gelap. Lentera di jalanan membantu penglihatan Gilar. Di ujung sana segerombolan setan-setan, hantu, putri, peri, dan malaikat-malaikat kecil menyatu, terdengar suara kecil berbicara dan tertawa ceria. Lagi-lagi Gilar tidak bisa menangkap apa yang diperbincangkan mereka.

Masing-masing mereka memegang kantong atau keranjang dengan berbagai motif dan bentuk. Mereka di kawal oleh beberapa makhluk-makhluk bertubuh besar melangkah dengan langkah aneh ke setiap rumah yang terang dengan lampu-lampunya, lampu-lampu berwarna kuning, sehingga mamancarkan keseraman dari warna putih dan hitam di sekelilingnya. Mereka mengetuk pintu, menyampaikan sesuatu, kemudian menyodorkan kantong dan keranjang, serta merta tuan rumah pun memasukkan berbagai macam permen, gula-gula, atau candies. "Inikah trick-or-treat?" pikir Gilar

Makhluk-makhluk kecil dengan berbagai karakter itu terus saja melangkahkan kaki-kaki kecilnya, Gilar mencoba mengikuti dari belakang.... Arah ini adalah juga jalan ke arah rumah tempat tinggalnya yang sekarang, rumah orangtua angkatnya. Walaupun di malam yang gelap dan hanya diterangi oleh lampu-lampu dan lentera rumah, Gilar masih bisa mengenal jalan ini.

Di jalanan pulang, terlihat kertas-kertas halus panjang putih berjuntai dari atap rumah ke halaman, melingkar-lingkar di antara tumbuhan, di antara hantu-hantu yang bergantungan, di antara ranting dan cabang pohon, di antara batu-batu nisan yang hari sebelumnya tidak ada... Gilar mencoba mendekati ujung gulungan kartas putih panjang. Ia keheranan, “Ini kan toilet paper?”  

Tidak jauh dari Gilar berdiri menatap untaian-untaian putih, ia merasakan seseorang mendekat ke arahnya. Gilar tergidik, walaupub jantungnya cukup kuat, ia merasakan degup yang tidak normal. Ia menoleh kea rah samping, di keremangan malan ia melihat sosok berjalan ke arahnya sambil menyodorkan benda berwarna putih. Gilar melangkah ke samping untuk segera mengambil langkah cepat dan Panjang, bersamaan ia mendengar suara yang sangat dikenalnya, “Gilar! What’s the matter?”

“Oh my Gosh! Ginger!” Gilar berbalik kea rah suara itu. Gilar kaget, kenapa ia tidak menduganya. Ginger, nama singkat buat Virginia Davis, adalah tetangga dan sekaligus salah seorang anggota English Club di High School, di Roosevelt High School, sekolah tempat Gilar sekarang dititipkan untuk belajar bahasa Inggris.

“Are you okay?” Ginger merasakan ada yang aneh dengan Gilar.

“Yeah…yeah…I’m fine” Gilar menjawab sedikit lega. Tiba-tiba ada kegembiraan menyeliputi alam pikirannya.

Ia meraih benda putih yang disodorkan Ginger ke arahnya. Sebuah gulungan toilet paper. Satu gulungan lagi ia keluarkan dari bungkusan plastiknya, untuk dirinya sendiri. Gilar mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Ginger, melempar gulungan ke pohon, mengambil kembali ujung gulungan yang masih tersisa kertasnya, melemparnya lagi...dan lagi...lagi... mereka terus melempari rumah Ginger. Suasana malam serasa semakin mencekam seram, namun ada seuntai kegembiraan Gilar di malam seram itu.

Mereka tertawa bersama. Tapi bagaimana Ginger bisa pasti itu adalah dirinya dalam busana Zorro va Java-nya? Dengan Bahasa Inggris yang terpatah-patah, broken English, Gilar berusaha menanyakannya ke Ginger. 

“Oh, this special kind of sword told me that it was you are.” Ginger menjawab sambil menunjuk ke pedang keris yang Gilar pakai untuk melengkapi kostumnya. Gilar memang pernah menceritakan ke Ginger tentang kostum yang akan ia kenakan untuk malam ini.

“I thought you with them, Daniel, his sister, and his cousin brothers” Ginger berkata ke Gilar.

Gilar menjelaskan bahwa tadinya mereka bersama, dan bareng ke downtown.

Ginger mengajak Gilar berjalan ke dalam rumahnya. Dari halaman depan rumah, mereka berdua berjalan melewati jalan masuk ke pintu depan rumah. Kiri dan kanan dihiasi....lagi-lagi kuning...kuning...orange....labu-labu yang menarik perhatian. Gilar ingat waktu di sekolah mereka mengadakan lomba ukir labu pumpkin.

Pumpkin yang telah diukir serem ini, di tengahnya di letakkan lentera, sehingga memancarkan wajah yang menakutkan “Oh, that's Jack O' Lantern” kata Ginger.

Mereka masuk ke ke ruang tengah, kedua orangtua Ginger juga mengenakan kostum spesial, mereka berdua duduk di sofa nonton TV, acara Spooky Halloween. “They're being at home, waiting for trick-or-treaters come around for candy and watching scary Halloween movies” Ginger menjelaskan tentang orang tuanya. Gilar pun ikut bergabung.

Scary Halloween movie belum selesai, tapi Gilar sudah buru-buru pulang. Ia harus menyelesaikan narasi minimal 1000 kata tentang pengalaman pertamanya ini, di hari ini, pengalamannya tentang Halloween. HAPPY HALLOWEEN.

@ Selesai alias TAMAT




Tuesday, October 23, 2018

“Creepy Ghosts” di Kota yang Menguning (Bagian 1)

Illustrasi Vector

Sengatan  matahari melemah, tidak lagi kuat menyengat seperti pertama kali Gilar datang ke kota ini. Angin terasa lembut menerpa daun-daun dan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan yang Gilar lalui. Suhu udara yang tidak begitu stabil, sepertinya hari ini temperatur turun beberapa derjat celcius, Gilar tidak bisa mengira-ngira berapa derjat pastinya. Walaupun Gilar tidak merasa begitu dingin karena bagian muka dan sekujur tubuhnya terbalut oleh pakaian yang dikenakannya, Gilar bisa pasti bahwa temperature saat itu memang drop.

Gilar berjalan sendirian ke arah yang telah dijanjikan dan ia sudah pernah ke sana sebelumnya, sudah tidak asing lagi baginya. 

Tapi setelah beberapa minggu tidak melewati jalan ini, Gilar merasakan banyak yang berubah. Lebar jalan tetap sama. Sisi kiri dan kanan jalan? “Suasananya berubah” ia bergumam sendiri. 

Gilar melihat ke arah depan, jalan yang lurus ini ditutupi daun-daun, begitu juga di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan. Angin bertiup dari arah belakang, terasa dingin. Gilar merasa dirinya dilempari daun-daun. Daun-daun yang berguguran dari pohon, daun berwarna kuning, oranye, dan merah,,,,,menerpa rambutnya...jatuh, beterbangan, dan berserakan dimana-mana, di jalan, di halaman, di atap rumah, dan hamper di semua permukaan. Semua tertutup daun yang berguguran. Daun-daun yang berwarna cerah kemilau, didominasi kuning dan jingga. Kini semua jadi terlihat kuning.

Di kiri dan kanan, pohon-pohon telah menjelma menjadi lemah, terombang-ambing oleh angin.

“Kenapa pohon-pohon ini melemparkan daun-daunnya ke arahku, bukankah dia diperlukan untuk fotosintesis, untuk proses pembuatan makanan dan energy?” sebuah pertanyaan terbersit di kepala Gilar. “Ah, semua berubah dikota ini”, Gilar tidak begitu peduli dengan daun dan pohon, dia buru-buru saja melangkahkan kaki…

Gilar membelok ke kanan, di kirinya sebuah pohon oak besar tidak lagi rindang dan hijau, begitu juga pohon-pohon lainnya, “Pohon-pohon ini juga telah berubah” pikir Gilar seraya menoleh ke kanan dan menduga jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan ini.

“Ini adalah pohon-pohon aspen dan di sebelah sana adalah pohon gum” ia mencermati dari bentuk daunnya, dan perubahan warna daun.

“Ranting-rantingnya sudah tidak memiliki daun lagi, sudah gundul dengan cepatnya” Gilar merasakan ada keanehan dengan pohon-pohon itu. 

Ia menoleh ke kanan, inilah rumah yang seharusnya, sesuai dengan alamat yang telah di tentukan. Bukankah ia pernah memasuki rumah ini? Suasana di rumah ini juga banyak berubah, tiba-tiba terdengar suara jeritan pilu dan sesosok bayangan mendekati ke arah pintu. Jantung Gilar hampir saja berhenti berdetak, tapi ia cepat menguasai sekelilingnya, ia berusaha berpura-pura biasa-biasa saja. Sosok yang menyambutnya ini dibalut jubah hitam, matanya merah, dan butiran air mata menetes bercampur darah...merah... lalu ia mempersilahkan Gilar masuk. 

Gilar melangkah menuju ke ruang tengah, beberapa sosok makhluk telah menunggu. Tongkat-tongkat ajaib dan sakti tergeletak di atas meja. Salah satu sosok dengan balutan baju panjang hitam, Gilar menoleh ke arah wajahnya, ia mengenali sosok itu... sosok vampire...membuat Gilar tertegun menelan air liur. 

Di sebelahnya satu sosok makhluk sedang duduk di kursi dengan sebuah tengkorak kepala manusia di pangkuannya dan sebuah boneka kecil voodoo di tangan kirinya. Di sebelah kanannya adalah sosok seperti hantu yang seluruh tubuhnya hijau, dan taring panjang yang terjulur keluar.  Di kanan Gilar ada badut yang bermuka serem, hidungnya yang bulat merah tidak lagi mengesankan sesuatu yang lucu. 

Mereka seperti mendiskusikan sesuatu sejenak, kemudian mereka sepakat meninggalkan bangunan ini. Gilar bisa mendengar obrolan mereka, tidak semua dari perbincangan dapat ia pahami. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa mereka akan bergerak ke arah selatan, ke arah keramaian kota…. 

“Bukankah seharusnya mereka ke arah utara, ke hutan kayu sana” Gilar berpikir, sedikit bingung.

Gilar mengikuti langkah mereka, melewati ruangan tamu, ruangan yang penuh dengan perlengkapan magis, voodoo, dan zombie, dan wajah-wajah seram mengintip di antara kaca-kaca jendela. Kemudian mereka melangkah ke jalan….

Sekali lagi Gilar yakin bahwa ia mengenal jalan ini, jalan yang sudah ditempuhnya beberapa kali. Ia menoleh ke sebuah pohon oak, pohon yang paling besar di antara pohon-pohon yang mulai gundul, terlihat batu-batu nisan dan lentera di antara pepohonan. “Sejak kapan batu-batu nisan itu di sana?” Gilar bertanya pada dirinya sendiri.

Mereka terus berjalan, hampir senja, di kanan jalan, di sebuah rumah yang belum menyala lampunya terlihat jaring laba-laba, dan sebuah laba-laba besar menempel merangkak di antara jaring-jaring yang dibuatnya. 

Hantu-hantu putih bergelantungan di antara pohon-pohon kecil, di antara belukar bunga, di antara ranting-ranting kecil. Gilar berpikir, “Sepertinya mereka adalah hantu baik, barangkali teman-teman Casper.” 

@ Bersambung…..

Monday, October 15, 2018

Kopi Pagi dengan Ekstra Racikan Rempah

Ramuan “brewed” kopi saya: tambahan susu segar, gula, mocha dan es.

Kalau ada di antara teman-teman bloggers yang berpendapat bahwa “hidup itu laksana secangkir kopi.... tergantung bagaimana kamu membuatnya”,.... maka kalau tidak mau hidup itu kecewa maka buatlah (atau jadikanlah) kopi itu senikmat dan sesedap mungkin.

Ternyata menikmati kopi yang sedap saja tidak cukup. Tapi bagaimana minuman yang pertama kali kita reguk setelah bangun dari tidur untuk menyemangati hari-hari kita selanjutnya itu juga sehat dan tidak memberikan kebosanan karena rasanya yang itu dan itu lagi. 

Hakikatnya, saya juga terjangkit candu “addiction” minum kopi setiap pagi, saya sukanya kopi hangat ditambah sedikit gula. Tapi sekarang kopi pagi-nya di “boost” dengan rempah dan bumbu yang ada di dapur, tambahin sejumput keciiiiilll saja....!!!

Kenapa...????

Ini alasannya:
        Tambahin  kayu manis: antioksidan, menurunkan gula darah, juga untuk menurunkan resiko sakit jantung

        Tambahin kapulaga: dulu kapulaga dipercaya sebagai obat untuk berbagai penyakit, sekarang ini di duga memiliki kandungan antimicroba dan bermanfaat untuk menyerang E.coli yang coba-coba masuk ke tubuh kita. Selain itu, kapulaga juga berfungsi sebagai penyegar nafas alami.

        Tambahin bubuk cabe atau yang di kenal cayenne: bermanfaat untuk mendongkrak selera makan dan juga buat sirkulasi. Paling cocok buat pencinta pedas. Kandungan Capsaicin dalam bubuk cabe ini juga bermanfaat untuk meredakan rasa sakit.

        Tambahin coklat bubuk: anti inflammatory dan antioksidan, juga menjaga kestabilan tekanan darah dan keseimbangan kolesterol.

        Tambahin jahe (kalau suka, tambahin kunyit juga boleh): anti inflammatory and antioksidan.

        Tambahin vanilla bubuk: anti oxidant, anti-inflammatory and anti-carcinogenic (anti kanker).

        Tambahin madu lebah: energi.

        Tambahin susu: udah pasti vit D

Dan di atas adalah foto ramuan “brewed” kopi saya, kopi dengan tambahan susu segar, sedikit gula, sedikit mocha, dan es...... Yup, kali ini pilihannya es kopi....