Monday, October 15, 2018

Kopi Pagi dengan Ekstra Racikan Rempah

Ramuan “brewed” kopi saya: tambahan susu segar, gula, mocha dan es.

Kalau ada di antara teman-teman bloggers yang berpendapat bahwa “hidup itu laksana secangkir kopi.... tergantung bagaimana kamu membuatnya”,.... maka kalau tidak mau hidup itu kecewa maka buatlah (atau jadikanlah) kopi itu senikmat dan sesedap mungkin.

Ternyata menikmati kopi yang sedap saja tidak cukup. Tapi bagaimana minuman yang pertama kali kita reguk setelah bangun dari tidur untuk menyemangati hari-hari kita selanjutnya itu juga sehat dan tidak memberikan kebosanan karena rasanya yang itu dan itu lagi. 

Hakikatnya, saya juga terjangkit candu “addiction” minum kopi setiap pagi, saya sukanya kopi hangat ditambah sedikit gula. Tapi sekarang kopi pagi-nya di “boost” dengan rempah dan bumbu yang ada di dapur, tambahin sejumput keciiiiilll saja....!!!

Kenapa...????

Ini alasannya:
        Tambahin  kayu manis: antioksidan, menurunkan gula darah, juga untuk menurunkan resiko sakit jantung

        Tambahin kapulaga: dulu kapulaga dipercaya sebagai obat untuk berbagai penyakit, sekarang ini di duga memiliki kandungan antimicroba dan bermanfaat untuk menyerang E.coli yang coba-coba masuk ke tubuh kita. Selain itu, kapulaga juga berfungsi sebagai penyegar nafas alami.

        Tambahin bubuk cabe atau yang di kenal cayenne: bermanfaat untuk mendongkrak selera makan dan juga buat sirkulasi. Paling cocok buat pencinta pedas. Kandungan Capsaicin dalam bubuk cabe ini juga bermanfaat untuk meredakan rasa sakit.

        Tambahin coklat bubuk: anti inflammatory dan antioksidan, juga menjaga kestabilan tekanan darah dan keseimbangan kolesterol.

        Tambahin jahe (kalau suka, tambahin kunyit juga boleh): anti inflammatory and antioksidan.

        Tambahin vanilla bubuk: anti oxidant, anti-inflammatory and anti-carcinogenic (anti kanker).

        Tambahin madu lebah: energi.

        Tambahin susu: udah pasti vit D

Dan di atas adalah foto ramuan “brewed” kopi saya, kopi dengan tambahan susu segar, sedikit gula, sedikit mocha, dan es...... Yup, kali ini pilihannya es kopi....






Friday, October 12, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian 3)

Illustration, credit to Kingdom Bloggers

“Mas, lagian bukannya paspor kita udah ndak diperpanjang, Mas bilang kita ndak perlu ikut-ikutan bertravel-travelan atau OTW-an ke luar negri.” Nayla mengingatkan. 

Nayla selalu berusaha jadi istri yang idam-idamkan dan istri yang baik sesuai dengan konsep dan keyakinannya, salah satu konsepnya adalah seorang istri yang baik itu harus manut ke suami dan tidak banyak menuntut. 

Saat ini Nayla merasa dipersalahkan dan ia tidak bisa menerimanya. 

Perasaan sedih dan kesal bercampur, setiap kali ia mengambil cuti libur dari kantor hanya untuk berkumpul dengan keluarga di rumah. Sesekali ia menyibukkan diri dengan media sosial, fesbuk, memasukkan foto masakan, bunga, dan status ”staycation asiiikk ;)” dan dengan senang hati ia meng-like atau meng-love, dan meng-komen teman-teman yang lagi jalan-jalan, menikmati udara, angin, bunga-bunga, salju, bangunan, minuman, dan makanan nun jauh di luar sana. Terbersit juga rasa iri untuk bisa menikmatinya, “liburanku hanya sebatas dinding rumah dan dinding pagar” pikirnya. 

Terdengar seseorang mengetok pintu. Tenyata dokter yang datang. Nayla menyambutnya dengan ramah, berbeda dengan suaminya yang memperlihat ekspresi wajah tidak puas dan sedikit cemberut. 

Nayla menyampaikan terimakasihnya ke dokter atas usahanya dan sarannya untuk “kelanjutan” usia suaminya. Sambil bercanda Nayla mengungkapkan keluhan suaminya tentang berobat di Singapore itu jauh lebih unggul, seperti yang yang mereka berdua perdebatkan dengan contoh kasus Pak Teguh, teman satu kantor suaminya. 

“Sepulang operasi di rumah sakit Singapur, Pak Teguh disarankan untuk meningkatkan aktifitas seks, tapi kenapa dokter tidak menyarankan yang sama terhadap suami saya, justru sebaliknya, yang membuatnya sangat cemas dan kuatir. Kenapa pengobatan di Indonesia dan di Singapur tidak sama?” dengan muka merah Nayla berusaha membantu suaminya untuk menyampaikan ketidakpuasan pengobatan dan terapi yang dia harus lalui. 

“Pak Teguh-nya operasi apa?” dokter balik bertanya. 

“Kanker prostat.” Nayla menjawab. 

Dokter diam sejenak, dia harus dapat meyakinkan kalau pasiennya harus mengerti permasalahan penyakit dan pencegahan sehingga tidak terjadi apa yang tidak diinginkan. Kemudian doker menjelaskan dengan panjang lebar perbedaan penyakit, perlakuan, dan terapinya. 

Dari penjelasan itu Nayla berusaha memahami dan akan mengingatkan suaminya kalau saja suaminya lupa dan mengeluh lagi terhadap hal yang sama. 

Ya, setelah operasi kanker prostat, seperti yang dialami Pak Teguh, memang disarankan untuk meningkatkan aktifitas hubungan seks. Kemampuan untuk mencapai kepuasan seks adalah dianggap sebagai alat untuk mengukur kwalitas hidup yang menentukan apakah harus ada terapi untuk berikutnya karena seks dianggap sebagai bagian penting dari sebuah kehidupan. 

Jadi suksesnya operasi prostat ini diukur dengan kehidupan dan aktifitas seks, berbeda halnya dengan masalah jantung. Kasus terapi untuk Pak Teguh sangat berbeda dengan kasus sang suami, bukan karena di Singapore atau di Indonesia-nya, 

Seorang dokter memang cerdas dan memahami pasiennya, kecemasan untuk tidak ada aktifitas seks ini justru yang akan membuat pasiennya dapat serangan jantung. 

Selain obat yang memang harus ditebus di apotik, akhirnya sang dokter mengeluarkan resep umum buat penderita jantung angina. ”Kalau Bapak bisa naik tangga dari lantai satu ke lantai dua, itu artinya Bapak bisa melakukan hubungan seks sama Ibu.” Dokter itu tersenyum serius.

@ Selesai….

@@ Cerpen berikutnya tentang Halloween.





Saturday, October 6, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian-2)

Ilustrasi Deste

Dokter menyarankan untuk “abstain” melakukan aktivitas yang mengerahkan tenaga atau stress sampai suami kembali ke cek up berikutnya, termasuk aktivitas rutin suami-istri, dokter mengistilahnya aktifitas seks, dikhawatirkan suplai darah yang mengandung oksigen ke jantung akan berkurang,

“Ya, Allah, KUTUKAN apa yang Kau berikan kepadaku?” terdengar lagi suaminya menjerit tertahan.

“Apa lagi ini?” Nayla menggumam, kenapa suami yang dihormatinya itu merasa terkutuk?

“Saran dokter aku abstain dari aktifitas sex.” Suaminya berkata.

“Terus di mana masalahnya?” Nayla bertanya.

“Abstain.” Terdengar nada suara suaminya sedikit naik.

“Emang kenapa?” Nayla bertanya lagi.

“Kamu tau apa artinya? Artinya Mas harus puasa” suaminya berkata dengan muka sedikit kecut,

“Nayla...hilang sudah..., aku sudah ndak mampu lagi. Sudah tidak ada lagi gunanya aku hidup” dia masih meneruskan kalimatnya.

Dokter memang mengatakan bahwa pasien dengan angina ini menderita sedikit penyempitan, sehingga ada perasaan tidak nyaman selama pengerahan tenaga, tidak cukup oksigen ke jaringan jantung dan kekurangan oksigen inilah yang dirasakan sebagai sakit dibagian dada.

Karena suami Nayla punya pengalaman angina sewaktu berjalan dan menaiki tangga, dokter merasa penting untuk berbicara dan mendiskusikan aman atau tidaknya untuk melakukan hubungan sex. Dokter juga mendiskusikan obat yang akan di minum untuk jantung dan yang mana tidak boleh diminum selama pengobatan ini, terutama obat-obatan dan jamu-jamuan unggulan untuk problem ereksi, kalau digunakan bersamaan akan menyebabkan dropnya tekanan darah.

“Ooo, begitu ya. Itu artinya Allah itu memperhatikan dan sayang padamu, Mas.” Nayla meneruskan, berusaha menenangkan suami yang dikasihinya itu, “Itu bukan kutukan, tapi Allah itu akan menaikkan martabat Mas”

“Martabat apaan?”suami sedikit mengeluh.

“Ya martabat, bisa jadi martabat hidup, martabat karir, martabat keluarga, yaaaa, maksudnya barangkali Allah akan menaikkan marwah, pangkat, kehormatan, reputasi, atau moral mu Mas.”

“Mungkin sebenarnya ada terbersit dihatimu ikutan trending?” tiba-tiba Nayla berkata.

“Trending? Trending apaan?” Suaminya penasaran.

“Trending untuk punya “simpanan”-lah, “bawah tangan”-lah, “nikah siri”-lah,” kata-kata itu begitu saja keluar dari mulut Nayla, hanya untuk menggodanya.

Upps, ratusan kerut kening terbentuk dan dua alis mata suaminya yang tidak begitu tebal menyatu. Nayla tergelitik untuk senyum melihatnya, tapi ini bukan waktu yang tepat, kondisi dan situasi saat ini sangat rentan. Masalah ke-jantan-an dan ke-perkasaa-an selalu memberikan dampak negatif, dan Nayla tidak ingin dia mengalami krisis kepercayaan diri.

Suaminya bersuara lagi... Dia melanjutkan rintihannya....rintihan yang yang sama....tapi, sepertinya dia kini menyesalinya, ”Kenapa Mas ndak dibawa ke rumah sakit Singapur saja?”

“Emang kenapa, dokter kita pinter gitu koq, fasilitas untuk diagnosa dan pengobatan juga bagus, rumah sakitnya bersih, perawatnya cantik-cantik dan ramah, Mas juga kelihatan jauh lebih baikan.” Nayla meyakinkan ke suaminya bahwa tidak ada yang salah dengan tindakan dan pilihan untuk memilih pengobatan dan terapi di sini.

Suami masih saja berdalih bahwa rumah sakit dan dokter di Singapore itu lebih baik. Tapi suaminya lupa bahwa mereka tidak memperpanjang paspor.

@ Bersambung…….


Monday, October 1, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian-1)

Ilustrasi, foto dari Keuka-Studios.com

Nayla memiliki firasat bahwa hari ini merupakan hari yang akan tidak menyenangkan. Tentu saja, bagaimana tidak, kalau suami sekarang terbaring di rumah sakit. Untung saja lalu lintas di jalan tidak ramai, dari kantornya ke rumah sakit tidak begitu macet, dan ia sempat singgah untuk membeli “beef spaghetti” kesukaannya, dan beberapa jenis kue basah kecil untuk dirinya dan suaminya. Ia belum sempat makan siang. 

Dia mendorong pintu yang terbuka sedikit tercelah, matanya tertuju ke beberapa “flower bouquet” (buket bunga), kartu ucapan cepat sembuh, dan buah-buahan, mestinya teman sekantor suaminya baru saja bezuk. 

Suaminya menyambutnya dengan rentangan kedua tangan kearahnya, Nayla mengerti, seperti biasanya ia bergegas ke arah suaminya memberikan pelukan hangat dan ciuman kecil. Tapi kali ini erat sekali dekapan suaminya, seolah tidak bertemu dalam beberapa dekade. 

Nayla berpikir, bahwa firasatnya meleset. Tidak ada sesuatu yang buruk. Suami OK-OK saja. 

Dia teringat makanan yang dibelinya, dia meregangkan pelukan, berusaha bangun untuk berdiri dan beranjak ke arah makanan. Nayla berpikir, mungkin mereka bisa menyantap berdua.

Tiba-tiba… 

Nayla mulai merasakan ada kejanggalan. Ada sedikit perubahan di wajah suaminya. Dia berusaha menetralisirkan suasana, seperti tidak merasakan apa-apa. Dia tahu seorang pasien sakit jantung seperti suaminya ini harus dijaga kestabilan baik fisiknya dan emosinya. 

“Ya Allah..., ampunilah dosa-dosaku… Ya Allah … Ya Allaaaah … Ya Rab...Engkau Maha Besar … Engkau Maha Penyayang...” suaminya seperti merintih. Nayla mendiaminya, barangkali saja dengan cara ini suami bisa meredakan rasa sakitnya. 

Minggu pagi itu, Nayla dan suaminya ikut jalan pagi, tiba-tiba suaminya seperti begitu terengah-engah, dan merasakan beban yang sangat berat menghimpit dadanya, tubuhnya sangat pucat, dan langsung dibawa ke gawat darurat. Beberapa tes telah dilalui, EKG dan stress tes, hari ini dilakukan tes yang lebih invasive, coronary angiography. Tes untuk memastikan dugaan tentang yang dialami suami Nayla, angina. 

Masih jelas di kepala Nayla, waktu dokter membuat torehan sayatan kecil di paha suaminya yang terbaring di meja radiograf, tubuh yang tergeletak di antara fluoroscope dan x-ray imaging. Tubuh yang di telah ditenangkan oleh sedative melalui cairan infus dilengannya, dan bagian paha yang telah disuntikkan bius lokal. 

Sebuah pipa plastik yang sangat kecil dimasukkan ke torehan di kulit yang terhubung ke pembuluh darah arteri di paha suaminya. 

“Pipa kecil itu seperti satu untai spaghetti ini” pikir Nayla sembari membuka kontainer beef spaghetti. Dokter menyebutnya catheter, spesifiknya catheter angiography. 

Catheter dipandu ke arah pembuluh darah koroner, yaitu arteri di bagian luar jantung yang mensuplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh otot jantung untuk berkontraksi, sehingga jantung bisa memompa darah ke seluruh penjuru tubuh. Melalui pipa atau catheter tadi, disuntikkan zat kontras yang berfungsi untuk menangkap imej oleh x-ray atau ionizing radiation. Dari imej yang dikirim ke monitor komputer, dokter dapat mendiagnosa kemungkinan penyumbatan oleh plak (sejenis lemak) dan penyempitan di pembuluh koroner suaminya. 

Dari imej yang terekam atau istilahnya angiogram, dokter menjelaskan bahwa penyempitan pembuluh koroner di jantung suami Nayla ini tidak begitu parah, sehingga tidak perlu dimasukkan balon yang ditiupkan ke pembuluh darah yang menyempit tersebut, atau stent, sejenis jaring-jaring yang sanggup meluruhkan plak sehingga suplai darah ke jantung tidak terblokir dan tetap terpenuhi.  

Balon dan stent ini berfungsi untuk mengatasi sakit jantung koroner, serangan jantung mendadak, stroke, atau penebalan otot jantung (cardiac myopathy). Dokter menjelesakan bahwa suaminya itu terkena angina, stable angina pectoris. 

@ Bersambung……..




Thursday, September 27, 2018

Kinali: Cinta Yang Dipupuskan oleh Teknologi (bagian 2)

Ilustrasi diambil dari:  progressiveneurology.com

Dari ruang dokter kami menuju ke sebuah ruangan, Kinali telah melepaskan semua persiapan dan aksesoris dari tubuhnya dan dia siap untuk berbaring di sebuah alat canggih, alat untuk meng-scanning otaknya, alat yang dikenal dengan istilah fMRI atau functional Magnetic Resonance Imaging. Dengan alat ini dokter dapat mengukur dan melihat bagian otak Kinali yang kandas cintanya. 

Setelah hubungan berakhir dan keindahan cinta masih tersisa, membuat Kinali menderita dan merasa malu. Kinali telah berusaha berbulan-bulan untuk keluar dari prahara cintanya, tapi bayangan pria itu tetap mengitarinya, Kinali tetap saja tidak bisa lari untuk menghindar darinya. Sang pria tetap saja kemping di bagian paling dalam tengah otak (midbrain) Kinali. Dokter menyebutnya VTA atau Ventral Tegmental Area. Dokter juga menjelaskan bahwa area ini berperan dalam “romantic love”, dan area ini juga berperan dalam kecanduan obat-obatan terlarang. 

Dokter menjelaskan hasil fMRI ke Kinali, pemetaan otak Kinali sudah dilakukan. Langkah berikutnya bagaimana  bagian otak yang berperan dengan “romantic love” yang sekarang ini sangat aktif dikembalikan lagi ke kondisi yang sama seperti sebelumnya, kondisi seperti sebelum Kinali mengenal kekasih yang ingin dilupakannya itu. Sehingga Kinali bisa hidup normal lagi, kembali seperti diri sendiri-nya lagi. 

Kinali harus melakukan beberapa terapi. Teknik terapi yang masih kontroversial. yaitu terapi neurofeedback dengan menggunakan teknologi electroencephalography (EEG). 

Di ruang terapi ini, Kinali dipasangkan sebuah topi yang penuh dengan lempengan kecil elektroda, lempengan-lempengan kecil (leads) merekam sinyal-sinyal gelombang otak Kinali dan menerjemahkan ke dalam bentuk gambar dan suara. Tujuannya untuk mentrain otak Kinali, sehingga meletakkan kembali pola gelombang otak yang berubah menjadi ke gelombang yang normal. 

Dokter menjelaskan lagi, EEG ini berfungsi melemahkan aktifitas otak yang tidak diinginkan dan mengaktifkan bagian yang lemah atau sangat lemah dari bagian otak yang kita inginkan. Tapi apakah ini artinya neurofeedback akan bisa mengobati dan memberikan semangat pada seseorang yang kehilangan cinta atau yang dicintainya? 

Hasil fMRI terakhir Kinali memperlihatkan aktifitas otaknya sudah normal. Kini Kinali sudah seperti Kinali dua tahun yang lalu, hidupnya terasa lebih ringan, seringan dia melangkah di runway. Kinali siap untuk move on. 

Sejenak terlupakan profesi dan pekerjaanku, karena hasratku untuk bertutur masalah umum-umum saja, yaitu masalah tentang cinta.

Ya! CINTA!!!!
Cinta Kinali.
Cinta yang dipupuskan. 

Cinta yang dipupuskan untuk menyelamatkan jiwa, raga, karir, percaya diri, dan masa depan yang berbinar. 




Saturday, September 22, 2018

Kinali: Cinta yang Dipupuskan oleh Teknologi (1)

Ilustrasi, Foto dari: vectorstock.com

Perkenalkan namaku Arina. Umurku 27 tahun. Tujuh tahun pengalaman di dunia kecantikan. Profesiku adalah ahli rias (make up artist). Sekarang aku sedang bekerja disebuah asosiasi yang bergerak di bidang modeling yang memperkenalkan busana-busana karya putra-putri bangsa ke manca negara. Tanggung jawabku adalah menentukan kesesuaian tata rias dan tata busana untuk Fashion Show. Termasuk tata rias untuk Kinali.

Sejenak lupakan profesi dan pekerjaanku, aku ingin bertutur masalah umum-umum saja, yaitu masalah tentang cinta. 

Ya! CINTA!!!!

Cinta Kinali. 

Kinali adalah salah satu model yang harus ku make up. Kami sudah seperti bersaudara saja, dia sangat percaya padaku dan aku sangat menghargai semua sikap dan pandangannya. Kinali sangat cantik dan out going, ramah dan santun terhadap siapa saja. 

Banyak pujian positif tentang dirinya. Saat peragaan-peragaan busana, Kinali paling banyak mendapatkan perhatian. tepuk riuh, cahaya dari berbagai kamera, dan order langsung dari pembeli untuk setiap barang-barang yang dikenakannya, tidak hanya busana tapi juga aksesoris, tas, dan sepatu. Ya, banyak pelanggan memilih untuk membeli busana yang dikenakan oleh Kinali di runway.

Kinali memang luar biasa di runway. Mengenakan sepatu dengan hak 10 sampai 12 cm yang membuatnya kelihatan anggun berjalan, melangkahkan lulutnya lurus ke depan, menyilangkan panggulnya sehingga tekukan lutut tetap lentur dan konsisten di setiap langkahnya, ditambah lagi dengan pandangannya yang lurus ke depan dan sesekali memberi kontak mata ke hadirin, melangkah dengan badan yang lentur dan elegan di sepanjang runway membuat dia laksana seorang Supermodel.

Banyak pria yang mendekati Kinali untuk merebut cintanya, tapi Kinali bukan seorang yang mudah untuk didekati, apalagi untuk menjadi seorang kekasih hatinya. 

Hingga suatu ketika, sekitar dua tahun yang lalu, Kinali memperkenalkan seorang pria tampan, untuk penilaianku dia super tampan dan sangat intelek, dan mengatakan padaku mereka telah berkomitmen menjadi sepasang kekasih. Dua insan ini sangat intens menjalin kasih, terlihat mereka saling membutuhkan dan saling mengisi. Jalinan kasih itu sangat, sangat dalam. 

“Arina, kedua orangtuaku merestui hubungan kami, Bulan depan kami ada rencana mengadakan pesta kecil untuk pertunangan kami, sekalian menentukan hari pernikahan.” Kinali menyampaikan rasa kegembiraannya padaku, dan rasa yang tidak sabar menantikan hari peresmian hubungan itu. 

Tiga bulan kemudian kutemui Kinali di kediamannya, dia berubah, keceriannya masih tersisa tapi tidak ada kebahagiaan di sana, Buku-buku dari Gramedia tentang tips mengatasi broken heart, cara dan tip buat mengatasi kegagalan cinta, obat putus cinta, dan.... entah berapa banyak buku-buku sejenis di kamarnya.

“Semua itu helpless.” dia berkata kepadaku sambil pandangannya menyapu buku-buku yang tergeletak. Matanya mulai basah, Aku bisa menebak, ini yang keseratus-sekian kalinya dia menangis.

“Arina, aku tidak ingin me”nista”kan diriku hanya untuk melupakannya.” Kinali berkata di antara isak tangisnya.

“Aku perlu bantuan.” Kinali berucap.

“Aku memohon padamu Arina, please, luangkan waktumu untuk menemaniku ke dokter.” suaranya rendah. 

Aku tidak mengerti maksudnya, tubuhnya terlihat sehat dan bugar, ia tidak pernah mengeluh dengan tubuh rampingnya itu, tapi aku menghormati keputusannya dan berjanji aku tidak akan membiarkannya sendiri ke dokter. 

Aku sedikit kaget ketika kami mengarah ke dokter spesialis saraf. Kenapa tidak konsultasi saja dengan psikolog atau “dokter cinta”, atau mungkin alim ulama, kiyai, ustad atau ustadzah. 

“Semua nasihat dan kata-kata mereka yang baik dan bermanfaat, hasilnya sama dengan buku-buku terbaik yang kubaca, helpless.” Ucapnya

@Bersambung ………..


Wednesday, September 19, 2018

PLONTOS

Kepala plontos (foto dari: informationng.com)

“Abi Zarah, hayuh tambahin lagi bening bayemnya,,,!! Gepuknya juga..,!!” Ibu mertuaku menyarankan suamiku untuk banyak makan bayam. Ia mulai lagi memerankan perannya sebagai seorang ibu ke anak lelakinya, walaupun secara halus dengan memanggil “Abi Zarah” untuk menghargai bahwa “anak”nya itu kini telah “ayah”. Zarah adalah nama anak perempuan pertamaku,

Aku memahaminya, dia pernah menyatakan kecemasannya terhadap jagoan satu-satunya itu,,,

Kulihat suamiku memenuhi keinginannya, menambahkan sedikit bayam dan sepotong gepuk daging sapi ke piringnya. 

Mertuaku melanjutkan, “Pola hidup sehat dan mengkonsumsi nutrisi yang tepat bakalan mencegah penyakit-penyakit yang akan menyerang kita”. 

Percakapan pun terhenti ketika suamiku yang duduk seberangku menyandarkan tubuh ke belakang dan tersenyum seraya berkata, “Alhamdulillah, kenyang... makasih Mah, enak banget.” Suamiku mengerlingku, dia tahu hari ini ibu mertua yang sangat repot di dapur, dan suamiku paling memahami psikologi mamanya. 

Suamiku pun beranjak ke ruang TV, bergabung dengan anak-anak. 

Aku dan ibu mertua masih saja duduk menikmati “cuci mulut” butir butir anggur hijau dengan santai. 

Tiba-tiba dia meneruskan kalimatnya sambil menatapku, “Neng, di negeri sana tuh orang-orang udah balik ke pengobatan natural, ga perlu lagi ngabisin uang untuk tanem rambut yang pasti aja ada effek sampingnya.” 

Dia berhenti sejenak. 

“Para praktisi kecantikan rambut di Barat melakukan riset terhadap para pelanggan selama 10 sampai 15 tahunan terhadap orang-orang yang sebelumnya diperkirakan punya kecenderunagn untuk botak, ternyata diketahui bahwa dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung Iron sangat membantu menstimulus akar rambut untuk tetap bertahan.” Dia berusaha menjelaskan kepadaku materi bacaannya dengan panjang lebar. 

Wajar saja kalau ia sangat cemas dengan rambut anaknya, karena almarhum ayah mertua kepalanya plontos, hanya sedikit saja rambut di kiri kanan dan bagian belakang. botak dari depan ke tengah dan belakang. Dia tidak mau hal ini juga terjadi terhadap anak lelakinya. Ibu mertuaku berusaha mencegah apa yang akan dialami putranya secara genetic. 

Dia menghitung dan memperbincangkan kadar “zat besi” atau yang disebut-sebutnya Iron disetiap bahan-bahan yang dimasaknya. Dia menjelaskan padaku bahwa bayam banyak mengandung Iron, walaupun daging sapi atau ayam barangkali kurang nutrisi tertentu, tapi bahan-bahan ini banyak mengandung nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan rambut. Dia menambahkan bahwa seorang laki-laki dewasa perlu minimal 8 mg zat besi setiap harinya. 

Dialek Sunda-nya sangat kental. “Neng, nanem rambut ongkosnys mahal pisan, bisa nyampe lima belas ribu dollar, walaupun ada yang empat ribu dollar, kalo dirupiahkan...., Masyaallah Neng, lebih mahal dari ONH plus.” 

Sambil mengulum sebutir anggur kecil, ingin kukatakan pada ibu mertuaku ini bahwa pandangan dia dengan kepala plontos berseberangan dengan pandanganku. 

Dikalanganku dipercaya bahwa kepala suami yang plontos itu seperti melambangkan ke-seks-iannya, perwujudan citra seorang suami yang romantis... Benar atau tidaknya, entahlah....Tapi itulah yang kurasakan di malam-malam yang kulalui bersamanya. Setiap keindahan diujung malam yang kudapati, berakhir dengan kelelahan di awal pagi. Dan setiap pagi aku menatap wajahnya, fokusku hanya pada mata dan senyumnya. Dia adalah suamiku, kebahagiaanku dari Allah. Forget about rambut dikepalanya. 

Ibu mertuaku terlalu berlebihan mengkhawatirkan putranya. Seandainya dia tahu kalau aku lagi demen dengan plontos aktor legendaris Bruce Willis dan juga “Disturbed” dalam video-nya “The Sound Of Silence” (Note: tidak termasuk anting dan tatonya yaa, hanya suara dan plontosnya doang). Yes, plontos tidak hanya seksi tapi juga atraktif. Aku percaya, dan lagian merasa beruntung. 

Meskipun nanti rambut di kepala suamiku mulai berguguran dan alhamdulillah apabila ada uang $15K, tentunya aku akan memilih ONH saja daripada memilih proyek “tanam rambut” di kepala plontosnya. Toh, suamiku makin seksi dan kami pun bisa menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima ini dengan “plus”. Insyaallah… 

“Mah, putra Mamah lelaki yang paling hebat di dunia dan aku wanita yang beruntung telah menjadi istrinya,” aku tersenyum padanya sembari beranjak dari dudukku untuk membereskan meja makan.