Friday, January 18, 2019

Lantana Blooming Seasons Could be Perennially and Yearly

Colorful of Lantanacredit to TexasSmartScape

Lantana is a native flower of tropical region in Africa and America, since the flower is an intruder, its might be spread in many areas of the world, including in temperate zones. Lantana has around 150 species that are blooming both perennial and annually, depend on the regions they are growing.

Even though native to warm areas, Lantana tolerates to cold temperature and still live in the light frost. United States Department of Agriculture (USDA) considered Lantana could live in the temperature as low as F degree 10 or C degree -12.

In term of hardiness, USDA included Lantana in the region of 8 to 11. Interestingly, if Lantana dead due to low temperature, the flowers seeds will grow back in the spring when temperature warming up. Thus, Lantana is flowering yearly, spring to fall in the temperate zone. However, The flower is blooming perennially in tropical countries.

In the USA, the common names of Lantana are West Indian Lantana, shrub verbenas and lantanas. Quite well known species is Lantana camara, many of them found in America southern likes Texas, Louisiana and Florida, but also in the colder states such as Missouri, North Carolina and even in New York.

Flowers are colorful: orange, white, yellow, red, blue and combination of these colors. Lantana is aromatic flowers, but mildly poisonous. Herbivores tend to avaid to eat Lantanas. It is believed that flower could harmful to children.

So, be careful if you wish to grow colorful Lantana in your own garden!

Thursday, January 17, 2019

Shock, what's the matter?

Shock (Credit: pixabay.com)

Have you heard about shock?

Do you a person who always says, “oh no, it makes me shock”, or a kind of.

There is a short version of my article about shock. I did presentation for this paper. It was one of the assignments of my Human Pathophysiology course.

Shock is a manifestation of pathologic condition rather than a disease. I understand that diagnosis and management of shocks are require extensive knowledge and clinical experience. At the beginning, I identified and retrieved my knowledge in Anatomy and Physiology class about how our heart works.

I distinguished the causes that lead to dysfunction of the heart, so I can recognize the clinical manifestations of shock such as thirst and agitation or restlessness; those lead to hypo tension and is followed by the characteristic signs of compensation: cool, moist, pale skin, tachycardia, and oliguria.

Next, based on clinical manifestation, vasoconstriction shunts blood from the viscera and skin to the vital areas. Then the direct effects of a decrease in blood pressure and blood flow become manifest by lethargy, weakness, dizziness, and a weak pulse. I recommend the diagnosis had been done to determine shock: Blood studies, ECG, chest X-ray, hemodynamic monitoring.

The last, I was able to analyze and distinguish for every shock (etiology, process, signs and symptoms, and prognosis). The causes of shock is not merely heart disease but also caused by infection (Septic shock), dehydration and burns (Hypovolemic Shock). 

I was able to explain how pain and fear can lead shock (Vasogenic or Neurogenic Shock), and how food, medications, venom, and latex may lead to shock (Anaphylatic shock).

Friday, January 11, 2019

Cegah “Rem” dan “Rem Tangan” untuk Melawan Kanker

Teori Cegah “Rem” untuk Melawan Kanker (Cegah Rem “Brake” PD-1 dan Rem Tangan “Parking Brake” CTLA-4 dalam melawan kanker). Ilustrasi: Mattias Karlén

Kantong kering!!
Zaman sangat old, zaman saya dulu, kalau jajan dikasih uang (physically), disimpan di kantong, atau dompet lalu selipin di kantong. Kalau uang sudah terpakai semua, berarti kantong lagi kering...kanker!!!

Begitu tahu kalau kanker itu penyakit yang mematikan, saya mikir-mikir untuk memakai kata-kata kanker. Cemas saja, kalau sering-sering disebutin, dikirain saya memanggilnya, dan didatangi sama si “penyakit” kanker itu...takuuutt.

Banyak faktor penyebab kanker. Semua sel tubuh yang membelah atau memperbanyak diluar kontrol dikategorikan ke kanker, sehingga ada yang jinak atau tumor (benign), ada yang ganas dan mematikan (malignant).

Jutaan manusia yang ada di permukaan ini harus mengakhiri hidupnya karena tidak bisa melawan si kanker. Di negara yang dipimpin oleh Paman Donald Trump, USA, yang katanya pengobatan dan peralatannya yang super pun, kanker merupakan penyakit di posisi kedua sebagai “killer”, posisi pertama adalah penyakit yang berhubungan dengan jantung.

Para peneliti dunia yang terlibat dengan proyek penanganan kanker ini berkerja dan berpikir keras. Tahun 2018, dua di antaranya dianugrahi Nobel Prize di bidang Physiology or Medicine. Mereka adalah James P. Allison dan Tasuku Honjo, dengan Prize motivation: "for their discovery of cancer therapy by inhibition of negative immune regulation."

James P. Allison adalah seorang warga Texas USA yang lahir tahun 1948, profesor di University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, TX, USA, dan Parker Institute for Cancer Immunotherapy, San Francisco, CA, USA.

Ia mempelajari protein yang berfungasi sebagai rem pada kekebalan tubuh atau immune system. Protein yang bernama CTLA-4 dianalogkan sebagai rem tangan atau parking brake yang berfungsi sebagai tombol ON/OFF dalam produksi sel kekebalan tubuh.

Ia menemukan bahwa kehebatan dari “rem” terhadap protein ini menyebabkan tubuh akan terus memproduksi sel-sel kekebalan atau immun dalam menyerang kanker.

James P. Allison (Illustrasi: Niklas Elmehed. © Nobel Media)

Tasuku Honjo adalah seorang warga negara Jepang yang lahir di Kyoto tahun 1942. Ia adalah profesor di Kyoto University, Kyoto, Japan. Masa kecilnya ia tertarik dengan angkasa luar dan ingin menjadi seorang astronomer, namun setelah ibundanya yang sangat cantik menghadiahkannya buku Biography of Hideyo Naguchi (1876-1928) yang mengidentifikasi Syphilis spirochetes yang mengakibatkan paralisis, ia berubah haluan dan mengalihkan perhatiannya ke medicine, dan akhirnya memecahkan misteri sistem kekebalan tubuh.

Tasuku Honjo (Illustrasi: Niklas Elmehed. © Nobel Media)

Tasuko Honjo berhasil menyibak sejenis protein pada immune cells, dan secara berhati-hati dan teliti mengeksplorasi fungi dari protein ini, terungkap bahwa protein yang ia temukan juga berfungsi sebagai pencegah atau rem. Protein ini bernama PD-1 yang dianalognya sebagai rem yang menguragi kecepatan per km/jam pada sebuah mobil, berfungsi secara “smooth” dalam regulasi sistem kekebalan tubuh. Regulasi ini dapat dimanipulasi dalam melawan kanker.

Checkpoint therapy (Illustrasi: Boldbusiness.com)

Allison dan Honjo telah membuktikan strategi yang berbeda untuk penghambatan rem pada immune system yang bisa digunakan dalam melawan dan pengobatan kanker. Saya pun makin optimis dengan pencegahan dan pengobatan kanker dengan memanej sistem kekebalan tubuh kita. Kedua pemenang Nobel ini mendapatkan $1 million untuk kontribusi mereka pada pengobatan.

Saat ini, dari temuan dan kerja keras mereka, dikembangkan obat-obatan yang melawan kanker dengan sistem cegah rem atau checkpoint inhibitor drugs seperti Ipilimumab (Yervoy), monoclonal antibody yang menempel ke CTLA-4 dan mencegah fungsinya, sehingga dapat mem”boost” immune respons melawan kanker sel. Pembrolizumab (Keytruda) adalah Monoclonal antibodies dengan target PD-1 atau PD-L1 yang memblok binding and mem”boost” immune response melawan kanker sel.


Sunday, December 30, 2018

Menjaring Hantu dengan Rambut Panjang

Cover buku

Nenek mengajarkan Shelly, cucu satu-satunya, tentang hantu. Ia menerangkan bagaimana caranya membawa hantu dengan rambut, kemudian memotong rambut kalau kita tidak menginginkannya lagi. Jika tidak, maka hantu-hantu itu akan menempel di kulit, membuat lubang dengan jari-jarinya di antara tulang rusuk, dan bersemayam di dalam tubuh.

Mama Shelly tidak suka hantu, dan juga tidak suka bila nenek menceritakan tentang hantu pada Shelly. Hal ini akan membuat Shelly takut dan tidak bisa tidur. Tapi nenek selalu punya alasan, dan mama Shelly tidak mau berbantah dengannya, sehingga nenek mengajarkan Shelly menjaga hantu-hantu dan bagaimana mengusirnya.

Shelly bangga terhadap neneknya yang banyak tahu tentang hantu dan bisa mengusirnya. Dia menceritakan pada teman-temannya bahwa neneknya adalah seorang Ghostbuster, dan suatu saat nanti ia juga akan seperti nenek.

Suatu hari nenek mengusir hantu yang mengganggu sebuah keluarga kulit putih, hantu yang selalu menempel dipunggung mereka ke mana pun mereka pergi. Nenek mendapat bayaran 300 dolar dan lasagna, mama Shelly menggodanya agar nenek men-cas mereka lebih banyak lagi. Biasanya nenek hanya dapat bayaran berupa barang-barang kecil seperti suvenir atau makanan.

Buku Everyday People

Nenek tidak mengusir semua hantu yang datang. Terkadang hantu memang harus dibiarkan menakut-nakuti. Terkadang manusia memang harus ditakut-takuti.

Nenek mengepang rambut Shelly dan mereka berniat untuk menangkap hantu dan menyimpannya di kepangan rambut. Rambut nenek juga dikepang dan dilingkarkan dikepalanya seperti sebuah mahkota. Kalau nenek sedang menangkap hantu rambutnya turun-naik ke atas kepala dan bahunya.

Menurut nenek, mereka tidak boleh menangkap hantu dari perkuburan. Nenek juga mengatakan bahwa tidak semua perkuburan memiliki banyak hantu. 

Mama Shelly meninggal begitu cepat. Setelah mama meninggal, ia mencoba mencari hantunya, pergi ke kuburannya, tapi tidak melihat atau menemukan apa-apa, Shelly rindu suara mama, ingin mendengar suaranya lagi. Shelly ingin menangkap hantu mama, meletakkannya di rambut, dan membawanya kemana pun, namun Shelly tidak bisa menemukannya dimana pun. Ya, mama tidak suka hantu dan mama tidak akan menjadi hantu. 


*****

Kisah si kecil Shelly dan neneknya (ditulis oleh Allison Mills) adalah salah satu cerpen dari 14 cerpen yang disatukan di buku anthology Everyday People. 

Judul: Everyday People. The Color of Life-A Short Story Anthology
Editor: Jennifer Baker
Kategori: Fiksi
Penerbit: Atria paperback Simon & Schuster, Inc. New York
Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 320
ISBN: 978-1-5011-3494-4

Ilustrasi berbagai karakter yang dinamik, budaya yang berbeda, konflik keluarga dan politik, hingga gejolak individu, yang dituliskan oleh penulis-penulis dari berbagai negara. 

Kisah tentang seorang ibu muda China dan bayinya (oleh Yiyun Li). Seorang Pilipino dan ayahnya serta warung kelontong mereka (oleh Mia Alvar). Kehidupan dan pekerja malam di Ghana. Beberapa konflik pribadi, perbedaan kultur, idealism dan gejolak jiwa. Diakhiri oleh pertentangan prinsip seorang Sri Lanka dengan latar belakang kehidupan miskin di Colombo (oleh Hasanthika Sirisena). Kisah orang-orang yang penuh dengan warna terangkum di buku ini.



Thursday, December 20, 2018

Marmalade dan Mawar buat Mama


Mama adalah seorang yang istimewa. Ia selalu spesial dengan multi-perannya. Perannya sebagai ibu terhadap anaknya juga mengalami perubahan mengikuti usia anak.

Perubahan demi kebaikan dan kesempurnaan tumbuh kembang anak-anaknya. Perubahan ini sangat sulit diterima oleh anak sewaktu ia belum dewasa. Perannya berbeda di saat anaknya masih SD yang semua bergantung dari mama dan mama selalu siap. 

Masa SMP mama mulai seperti perhitungan soal pertanggungjawaban dan cerewet pada anaknya yang mengalami proses akil baliq, hingga saat SMA seorang mama menjadi super ketat terhadap pergaulan anaknya, walaupun juga sekaligus ia juga ingin dijadikan seorang teman. Mama membuat begitu banyak aturan, dan mengontrol banyak hal yang membuat seorang anak tidak nyaman.

Namun kasih sayangnya tidak berubah, bagaimanapun sikap seorang anak, seorang mama tetap konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Besok, 22 Desember, kesempatan kita buat mencurahkan apa yang kita rasakan sebagai anak atas yang diberikannya kepada kita. Satu hari saja, 22 Desember, tidaklah cukup untuk mengenang atau mencurahkan rasa terima ksasih kepadanya. Tapi dengan memperigati hari ibu ini, berarti juga mengenang peran seorang ibu terhadap anaknya, dimana anak-anaknya adalah juga anak bangsa. Memperingati hebatnya peran seorang ibu terhadap sebuah bangsa.


Banyak kata-kata indah buat ibu, dalam lagu dan nyanyian, puisi dan syair, cerpen dan novel yang menyentuh, juga kisah tentang perjuangan dan peran ibu di layar kaca dan layar lebar yang bikin “baper”.

Satu kiasan yang paling melekat, yaitu surga di telapak kaki ibu. Satu teori yang tak terelakkan, yaitu struktur penghasil energi dalam tubuh disetiap individu kita hanya berasal dan diturunkan dari Ibu.

Itulah istimewanya ibu. Buat peringatan hari ibu besok, saya sudah siap-siap dengan marmalade dan mawar, mengingat mama yang:

Menggemari buah-buah tropikal, apa saja, dan jeruk selalu ada di kulkas. Kali ini jeruk buat mama dalam bentuk selai, marmalade. Marmalade ini merupakan selai jeruk yang tidak dikategorikan selai (jam), mirip selai, hanya saja dimasukkan irisan-irisan kulitnya. Jadi ada sedikit rasa pahitnya. Marmalade yang ini adalah buatan teman yang dibuat berdasarkan order. Karena hanya satu ukuran jadinya dipesan beberapa jar.

Seperti umumnya para wanita, mama juga menyempatkan waktunya buat menanam bunga, tidak begitu banyak jenisnya, bunga favoritnya adalah mawar dan cempaka, yang setiap kali berbunga selalu dipetiknya dan diletakkan di kamarnya. Hari ini mawarnya sudah persiapkan dan sudah diberi nutrisi di air dalam vasnya supaya lebih tahan lama.


Walaupun sederhana dan sesuatu yang simple saja buat mama, tapi mama pasti bahagia, karena dia memang senangnya kejutan-kejutan kecil dari anaknya.

22 Desember, Indonesia adalah negara terakhir yang memperingati hari ibu di setiap tahunnya. Pada umumnya negara-negara di belahan dunia ini memperingati hari ibu setiap “the second Sunday of May” mengikuti Mother's Day di USA. Indonesia merayakan Hari Ibu berdasarkan dekrit presiden RI Soekarno.

Buat para Ibu dan juga buat diri saya sendiri yang juga seorang ibu, saya ucapkan “Selamat Hari Ibu!”



Monday, December 10, 2018

Derita dan Kemewahan Kota Paris (Bagian 2)

Koleksi tas LV  (Ilustrasi/Foto: spottedfashion.com)

Senja menjelang lebih awal. Dingin di musim gugur dihangatkan dengan secangkir kopi dan semangkok bouillabaisse. Alya dan Dian memilih meja di dekat jendela.

Dian masih saja asik dengan video call. Alya tidak ingin melewatkan sedetik pun keindahan dan kemilau Paris, ia memilih duduk saja dengan tenang, membiarkan matanya menikmati suasana dan lalu lalang pejalan kaki dari pinggir jendela.

Sinar matahari sirna total, digantikan oleh gemerlap lampu Paris kota. Alya tidak memalingkan wajahnya ke arah lain, masih dengan posisi yang sama.

Samar, 

ia melihat sosok anak lelaki kecil kelaparan. Alya menoleh ke mangkok yang masih tersisa setengah bouillabaisse. Ia mendorong mangkok sedikit ke tengah, dan ia kembali ke posisi semula, menoleh ke luar.

Remang,

Alya melihat sebuah desa yang teduh, yang dihuni oleh keluarga para petani dan pemotong kayu, istri-istri petani yang menambah penghasilan keluarga dengan membuat topi wanita, desa yang diliputi kemiskinan. Anak lelaki tadi mengambil perhatian Alya, seorang bocah berumur 13 tahun, berjalan melintas jalanan yang berbatu, jalan yang panjang dan tidak rata, tanpa bekal tanpa teman tanpa alas kaki.

Bunda telah meninggalkannya 3 tahun yang lalu, dan ayah menikah lagi. Kehidupan ayah sebagai petani sangat memprihatinkan, dan ibu baru tidak sayang padanya, ia dalam usia tumbuh, selalu merasa lapar, dan makanan sangat terbatas. Ibu baru selalu marah, pertikaian tidak bisa dihindarkan.

Pertikaian dengan ibu membangkitkan hasrat yang kuat untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan desa kelahiran, Anchay, menuju ke ibukota, Paris.

“Bocah bandel dan keras kepala” Alya bergumam.

Perjalanan dari desa, dengan langkah-langkah kecil kaki kecil, jarak yang hampir 500 km ditempuh selama tiga tahun. Bocah yang lari dari kampungnya itu kini telah menjadi teenager sesampai di Paris. Ia berumur 16 tahun, dan ia harus melebur dengan kota Paris yang saat itu sangat butek akibat revolusi industri, dengan kontradiksi petisi, keagungan kemegahan digandeng kehinaan kemiskinan, pertumbuhan yang pesat bergandengan dengan kehancuran yang menyeluruh.

Anak lelaki yang tumbuh di sepanjang perjalanan itu baru saja menginjakkan kakinya di kota Paris, “Ia adalah Louise Vuitton” Alya bergumam lirih sambil berkedip membasahi matanya yang kering.

Untuk menopang hidup, ia magang di sebuah perusahaan pembuatan kotak dan pengepakan, hanya beberapa tahun saja Louise Vuitton sudah membuat reputasi yang bagus di antara urban fashion, Memiliki toko sendiri, menyediakan dan mendisain, khususnya pengepakan busana. Disain pengepakan yang efektif dan dinamis, bentuknya yang persegi, memudahkan untuk transportasi di kereta atau kapal, “Dari sini lahirnya ide luggage yang kita miliki sekarang” Alya yakin tentang invension Louise Vuitton.

Enambelas tahun berlalu sejak Louise Vuitton menginjakkan kaki di Paris, Charles-Louis Napoléon Bonaparte mengambil alih Republik Perancis dengan cara kudeta. Perancis kembali menjadi kekaisaran yang keduakalinya di bawah kekuasaan Napoleon III.

Temaram,

Alya masih bisa memperhatikan seorang wanita yang sangat cantik, modis, intelek, mudah bergaul, dan perhatian ke rakyatnya. Rakyat Perancis mencintainya, dia adalah Eugénie de Montijo, istri Kaisar Napoleon, dan ia memilih dan meminta LouiseVuitton mendisain tempat untuk meletakkan pakaiannnya yang sangat mewah dan sangat mahal, terutama untuk bepergian. Eugénie de Montijo sering melakukan perjalanan jauh, baik untuk urusan kenegaraan maupun personal.

Eugénie de Montijo  (Ilustrasi: metmuseum.org)

Untuk suatu undangan pesta, sebuah perayaan pembukaan Terusan Suez, Louise Vuitton adalah orang yang mendisain segala tas dan pengepakan pakaian dan segala kebutuhan Eugénie de Montijo. 

Eugénie de Montijo memperkenalkan Louise Vuitton ke sahabat-sahabatnya seperti Sultan Mesir, Ismail Pasha, dan juga Ratu Inggris, Queen Victoria. Hal ini membuka lebar akses hasil karyanya dalam disain pengepakan barang di kalangan orang-orang yang sangat penting di dunia saat itu.  

Buram,

perang melanda negeri, usaha yang dibina dengan seluruh jiwa dan raga, hancur lebur, barang barang dicuri tanpa sisa, lelaki ini tetap kuat. Ia, Louise Vuitton, saat itu bangkit dan bertekat untuk membangun lagi usahanya dari nol hingga akhir hayatnya kelak. Ia membangun dan merintisnya lagi “Lelaki yang keras hati” Alya mengaguminya.

Secercah,

usaha Louise Vuitton yang luar biasa, anak dan cucunya yang juga tidak kalah gigihnya dengan mempelajari dan menerapkan manajemen dan strategi pasar yang jitu untuk mempertahan dan mengembangkan produknya sebagai luxury goods. Alya, seperti juga teman-temannya sangat proud terhadap produk LV.

Jelas,

Alya bukannya Eugénie de Montijo. “Ya, aku hanya seorang warga Indonesia yang selera dan cita rasanya terhadap mode telah dibentuk dan distir..!!”  Alya merasa sesak dan berusaha menarik nafas dalam, menahannya, dan menghembuskannya. “Aku akan belajar darimu Eugénie de Montijo, walaupun dalam skala kecil, semoga akan ada lahir seorang Indonesia seperti Louise Vuitton, paling tidak, ini adalah niatku”.

Alya menatap Dian yang masih saja disibukkan dengan video call, “Terimakasih Dian, atas itinerary yang telah kamu buat!!” Alya menghela nafas dan melepaskannya pelan.

******

(Foto: Abdulmonam Eassa/AFP/Getty Image)

Tidak berselang lama sesampai di tanah air, Alya dan Dian membaca berita kerusuhan di Paris dan kota sekitarnya. Para pendemo menghancurkan mobil di sekitar Champs Elysees, gas air mata ditembakkan, dan sekitar 400 korban luka dan fatal.

Dari 300.000 orang pendemo, 2000 orang di bawah "pengawasan" negara dan 682 ditahan akibat melakukan kekerasan dan penghancuran.

Paris dalam derita,

sisa asap dan gas air mata masih terasa hingga hari ini,

Dec. 10, 2018

# Selesai !











Saturday, December 1, 2018

Derita dan Kemewahan Kota Paris (Bagian 1)

Eiffel dan terowongan tulang belulang (Photo: Thomas Sentpetery).

Alya menatap tidak percaya pada iklan yang di forward oleh Dian via WA. Diskon penerbangan domestik dan internasional secara besar-besaran. bayangkan saja diskon 20% bakal diambil, apa lagi diskon 40%-70%... Siapa nolak? Don't think twice... Jari telunjuknya menyapu naik turun meneliti jumlah persen potongan harga di setiap penerbangan, dan angka-angka nominal yang harus dikeluarkannya.

Serasa di puncak menara membayangkan akan ngepack  barang-barang. Sebelum mengisi permohonan cuti, Alya berpikir lebih baik yakin dulu siapa saja yang akan bersedia bersamanya untuk menikmati tawaran yang super menggiurkan ini. “Biar ditanyain dulu siapa aja yang akan mau pergi denganku menikmati angin autum breeze nun jauh di Eropah....wow banget deh”

“Engga ah, ngapain lagi harus di spot yang sama?” Dian berkomentar, “Lagi-lagi Eiffel”.

“Tapi kali ini bukan background dimana dan ke mana kita Hun, tapi apa yang kita carry!”, Hun adalah singkatan dari kata Honey, Istilah cool Alya untuk menggantikan kata “say” buat teman-teman dekatnya dalam percakapan sehari-harinya. “Ini bukan acara pemotretan yaa, ini hunting...berburu...!!”

“Belanja?!” Dian menegaskan.

Mengajak Dian untuk bepergian susah-susah gampang, tapi akhirnya mereka dapat dipastikan tinggal memilih tanggal yang cocok untuk ketersediaan tiket dan persetujuan jadwal cuti, tidak perlu lama-lama yang penting belanja-belanja dan acara fiesta di akhir tahun.

“Menikmati kopi di pinggiran jalan, menatap Eiffel Tower, sekaligus menikmati sentuhan dipenghujung musim gugur, menjelang musim dingin... di jamin romantis, bakal seperti di film-film romans, hhmmm...” Alya berkata ke Dian.

Alya melanjutkan, “Oh ya Dian, ntar aku bisa pake koleksi sepatuku lho. Aku udah ngebayangin aja make thigh-high boots-ku, plus sweater bulu, shawl, beanie, kapan lagi tampil gituan?”

”Wah-wah, ntar suitcase kita bakal berat nih, kalo perginya udah berat gimana pulangnya?” Dian menyela.

Alya membiarkan Dian yang membuat traveling plan. Alya percaya padanya. Untuk soal manajemen planning, Dian paling handal, apalagi cuma buat itinerary tiga hari di Paris. That's such an easy peasy thing buatnya, pikir Alya.

“Tujuan kita Champs Elysees, OK?” Berulang Alya mengingatkan Dian.

Dian sangat tahu bangunan apa yang dimaksud Alya, tempat berdiri tegak toko Louis Vuitton. Sebuah bangunan LV dan Sephora di Champs-Elysees, membuat aktivitas belanja-belanja jadi komplit, paket jumbo, super indah,  berbagai tas, busana, dan gemerlap permata.

******

Langit Paris seperti hampa.

Alya dan Dian berdiri di antara antrian yang tidak begitu panjang menatap menara Eiffel. Mereka menunggu giliran untuk melewati sebuah pintu yang berada di bangunan kecil berwarna hijau tua seperti pos jaga. Setelah dibentuk pergrup, Alya dan Dian melangkahkan kakinya ke pintu kecil itu, di sana mereka harus menuruni seratus lebih anak tangga menuju ke perut bumi.

“Inikah dungeon itu?” Alya bertanya dengan suara rendah. Mereka mengunjungi wajah lain dari gemerlap kota Paris, persis selapis di bawahnya.....

Inilah Paris dengan sejarah panjangnya. Inilah labirin catacombs....

Dungeon dan tulang-belulang warga Paris tersimpan di Paris Catacombs. Tengkorak-tengkorak yang berjumlah lima kali lipat dibanding dengan jumlah penduduk Paris yang bersileweran di luar atas sana.

Di lorong bawah tanah ini terasa dingin, barangkali di bawah 14 derjat celcius.

Di kiri dan kanan terowongan tersusun rapi tulang-tulang penduduk Paris...benar-benar alam kematian “realm of death”....

Susunan tengkorak di bawah Menara Eiffel 
(foto: Getty Images/Lonely Planet Images)

Sebuah guci “Seperti guci keramik hiasan di rumah nenek, tapi besar....besar banget” Alya bepikir. Astagfirullah al azim...semua yang terpajang di galeri ini adalah susunan dan rangkaian tulang belulang dan tengkorak!” Alya merinding, perutnya terasa mual.

Terdengar celetuk dari salah seorang dalam grup “Fanthom of the Opera”.

******

Langit Paris tidak cerah.

Alya dan Dian berdiri di antara anak tangga Louis Vuitton Champs Elysees. Menara Eiffel terlihat angkuh dan Alya menoleh ke pintu masuk took.

“Ayo masuk!” Dian mengajak Alya untuk segera melangkah masuk.

Alya ragu sejenak. Pintu toko terbuka lebar, pertanda dengan hangat mempersilakan pembeli masuk. Alya masih saja berdiri memandangi pembeli yang masuk, kakinya begitu berat untuk melangkah.

'Kenapa?” Dian bertanya.

******

# Bersambung ke bagian 2.