Sunday, November 11, 2018

Sperma Untuk Energy Drink: Taurus, Taurine dan Red Bull

Illustrasi: 123rf.com

Tahu kan “foto” siapa di atas?

Benar!

Nama “cool” nya si “Bull” dan diyakini Bull ini adalah makhluk yang sangat powerful. Dan kalau kita-kita lagi kesal, kotorannya pun diteriakin..... Bullsh**t! :(

Ia memang tokoh yang luar biasa, pasti juga tahukan “berita-berita” tentang sperma-nya si Bull?

Benar!

Berita tentang energy drink yang ingredien-nya terbuat dari sperma si bull.
Sebut saja Krating Daeng atau Red Bull, yang di kalengnya juga dipajang gambar si bull.
Gambar di bawah adalah contoh yang saya maksudkan. Perhatikan tulisan di kiri bawah (dalam garis biru)! With Taurine. Ya, ini biangnya!!

Baca Juga:

Minuman Kaleng

Hasil penelitian yang panjang dengan menggunakan ekstrak empedu (dan spermanya) bull yang dilakukan selama 90 tahun menunjukkan bahwa ada senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan dan meningkatkan sports performans, maka mereka (para peneliti), menyebut senyawa itu dengan nama taurine, sesuai dengan asal usulnya: taurus (taurus adalah bahasa Latin untuk bull).

Jadi taurine ini yang menjadi “ingredient” andalannya energy drink.

Apakah sebenarnya taurine itu?

Taurine ini adalah senyawa yang mirip-mirip amino acid yang berperan penting dalam proses metabolik dan juga diduga memiliki kandungan antioxidant. Taurine memiliki peran penting di dalam tubuh.

Taurine terdapat di jaringan tubuh hewan dan manusia, terutama di bagian otak, mata, jantung, dan otot. Sebenarnya tubuh manusia dapat memproduksi taurine, meskipun kita mendapatkan sebagiannya dari makanan yang sehari hari kita konsumsi.

Tambahan taurin di minuman ini adalah karena sudah terbukti senyawa ini membantu fungsi otot, mendukung performans dan daya tahan para atlit, membantu meluruhkan kecemasan.

Tapi benarkah sumbernya dari sperma bull?? Sebuah pernyataan dari orang-orangnya Red Bull bahwa taurine memang terdapat di spermanya bull, seperti juga terdapat di usus manusia, air susu manusia (ASI), daging, dan ikan. Tapi proses kimia juga bisa menghasilkan taurin sama halnya proses dalam tubuh makhluk hidup. Taurin untuk Red Bull diramu di lab.

Red Bull tidak menggunakan produk hewan, sehingga bisa dikonsumsi oleh orang-orang vegetarian, atau yang tidak memakan produk dari binatang dan unsur-unsurnya. Alasan ekonominya, sperma bull sangat mahal untuk memproduksi minuman kaleng ini secara besar-besaran di banding dengan secara sintetik.

Mereka menegaskan lagi “Red Bull mengambil nama dari ingredient tapi bukan berarti mengambil ingredient dari bull!!!” ;]

Menindaklanjuti hasil riset para ahli, banyak orang-orang mengkonsumsi suplemen taurine sebagai obat untuk penyakit jantung, darah tinggi, hepatitis, kolesterol. Ada juga yang menggunakan sebagai obat epilepsi (ayan), autis, dan ADHD.

Berikut ini adalah contoh dari suplemen Taurine yang banyak di konsumsi karena khasiat-khasiatnya.







Thursday, November 1, 2018

“Creepy Ghosts” di Kota yang Menguning (Bagian 2)

Illustrasi: Ed Hall.

Temperatur drop lagi, dingin menembus pakaian Gilar, menembus menuju ke tulang-tulang Gilar. Sekilas melintas dua sosok rangka tulang belulang melangkah, satunya tinggi besar dan satunya lagi rangka kecil. Rangka tulang kecil itu berkisar umur 4 tahun, tulang-tulang yang belum tumbuh sempurna, melangkah pendek tapi cepat mengikuti arah kerumunan.

Mereka sampai di keramaian kota, di sana menumpuk berbagai macam karakter hantu, para hantu berbaur, antara yang baik dan yang buruk. Karakter tokoh-tokoh yang sepertinya tidak asing lagi, ada juga karakter wanita seksi bermuka kejam, malaikat cantik dengan sayap dan tongkat, dan berbagai karakter aneh yang Gilar tidak tahu. Semua jenis sosok dan karakter berkumpul di sini. 

Gilar berbaur dengan mereka, saling membuat kejutan, saling mengekspresikan kehebatan dan keseraman masing-masing, menikmati kejutan-kejutan kecil di sepanjang pinggir-pinggir jalan, di antara lentera-lentera kecil, juga lentera besar yang berekspresikan berbagai wajah seram.

Kuning senja menghilang, suasana kota yang kuning temaram berubah ke gelap. Lentera di jalanan membantu penglihatan Gilar. Di ujung sana segerombolan setan-setan, hantu, putri, peri, dan malaikat-malaikat kecil menyatu, terdengar suara kecil berbicara dan tertawa ceria. Lagi-lagi Gilar tidak bisa menangkap apa yang diperbincangkan mereka.

Masing-masing mereka memegang kantong atau keranjang dengan berbagai motif dan bentuk. Mereka di kawal oleh beberapa makhluk-makhluk bertubuh besar melangkah dengan langkah aneh ke setiap rumah yang terang dengan lampu-lampunya, lampu-lampu berwarna kuning, sehingga mamancarkan keseraman dari warna putih dan hitam di sekelilingnya. Mereka mengetuk pintu, menyampaikan sesuatu, kemudian menyodorkan kantong dan keranjang, serta merta tuan rumah pun memasukkan berbagai macam permen, gula-gula, atau candies. "Inikah trick-or-treat?" pikir Gilar

Makhluk-makhluk kecil dengan berbagai karakter itu terus saja melangkahkan kaki-kaki kecilnya, Gilar mencoba mengikuti dari belakang.... Arah ini adalah juga jalan ke arah rumah tempat tinggalnya yang sekarang, rumah orangtua angkatnya. Walaupun di malam yang gelap dan hanya diterangi oleh lampu-lampu dan lentera rumah, Gilar masih bisa mengenal jalan ini.

Di jalanan pulang, terlihat kertas-kertas halus panjang putih berjuntai dari atap rumah ke halaman, melingkar-lingkar di antara tumbuhan, di antara hantu-hantu yang bergantungan, di antara ranting dan cabang pohon, di antara batu-batu nisan yang hari sebelumnya tidak ada... Gilar mencoba mendekati ujung gulungan kartas putih panjang. Ia keheranan, “Ini kan toilet paper?”  

Tidak jauh dari Gilar berdiri menatap untaian-untaian putih, ia merasakan seseorang mendekat ke arahnya. Gilar tergidik, walaupub jantungnya cukup kuat, ia merasakan degup yang tidak normal. Ia menoleh kea rah samping, di keremangan malan ia melihat sosok berjalan ke arahnya sambil menyodorkan benda berwarna putih. Gilar melangkah ke samping untuk segera mengambil langkah cepat dan Panjang, bersamaan ia mendengar suara yang sangat dikenalnya, “Gilar! What’s the matter?”

“Oh my Gosh! Ginger!” Gilar berbalik kea rah suara itu. Gilar kaget, kenapa ia tidak menduganya. Ginger, nama singkat buat Virginia Davis, adalah tetangga dan sekaligus salah seorang anggota English Club di High School, di Roosevelt High School, sekolah tempat Gilar sekarang dititipkan untuk belajar bahasa Inggris.

“Are you okay?” Ginger merasakan ada yang aneh dengan Gilar.

“Yeah…yeah…I’m fine” Gilar menjawab sedikit lega. Tiba-tiba ada kegembiraan menyeliputi alam pikirannya.

Ia meraih benda putih yang disodorkan Ginger ke arahnya. Sebuah gulungan toilet paper. Satu gulungan lagi ia keluarkan dari bungkusan plastiknya, untuk dirinya sendiri. Gilar mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Ginger, melempar gulungan ke pohon, mengambil kembali ujung gulungan yang masih tersisa kertasnya, melemparnya lagi...dan lagi...lagi... mereka terus melempari rumah Ginger. Suasana malam serasa semakin mencekam seram, namun ada seuntai kegembiraan Gilar di malam seram itu.

Mereka tertawa bersama. Tapi bagaimana Ginger bisa pasti itu adalah dirinya dalam busana Zorro va Java-nya? Dengan Bahasa Inggris yang terpatah-patah, broken English, Gilar berusaha menanyakannya ke Ginger. 

“Oh, this special kind of sword told me that it was you are.” Ginger menjawab sambil menunjuk ke pedang keris yang Gilar pakai untuk melengkapi kostumnya. Gilar memang pernah menceritakan ke Ginger tentang kostum yang akan ia kenakan untuk malam ini.

“I thought you with them, Daniel, his sister, and his cousin brothers” Ginger berkata ke Gilar.

Gilar menjelaskan bahwa tadinya mereka bersama, dan bareng ke downtown.

Ginger mengajak Gilar berjalan ke dalam rumahnya. Dari halaman depan rumah, mereka berdua berjalan melewati jalan masuk ke pintu depan rumah. Kiri dan kanan dihiasi....lagi-lagi kuning...kuning...orange....labu-labu yang menarik perhatian. Gilar ingat waktu di sekolah mereka mengadakan lomba ukir labu pumpkin.

Pumpkin yang telah diukir serem ini, di tengahnya di letakkan lentera, sehingga memancarkan wajah yang menakutkan “Oh, that's Jack O' Lantern” kata Ginger.

Mereka masuk ke ke ruang tengah, kedua orangtua Ginger juga mengenakan kostum spesial, mereka berdua duduk di sofa nonton TV, acara Spooky Halloween. “They're being at home, waiting for trick-or-treaters come around for candy and watching scary Halloween movies” Ginger menjelaskan tentang orang tuanya. Gilar pun ikut bergabung.

Scary Halloween movie belum selesai, tapi Gilar sudah buru-buru pulang. Ia harus menyelesaikan narasi minimal 1000 kata tentang pengalaman pertamanya ini, di hari ini, pengalamannya tentang Halloween. HAPPY HALLOWEEN.

@ Selesai alias TAMAT




Tuesday, October 23, 2018

“Creepy Ghosts” di Kota yang Menguning (Bagian 1)

Illustrasi Vector

Sengatan  matahari melemah, tidak lagi kuat menyengat seperti pertama kali Gilar datang ke kota ini. Angin terasa lembut menerpa daun-daun dan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan yang Gilar lalui. Suhu udara yang tidak begitu stabil, sepertinya hari ini temperatur turun beberapa derjat celcius, Gilar tidak bisa mengira-ngira berapa derjat pastinya. Walaupun Gilar tidak merasa begitu dingin karena bagian muka dan sekujur tubuhnya terbalut oleh pakaian yang dikenakannya, Gilar bisa pasti bahwa temperature saat itu memang drop.

Gilar berjalan sendirian ke arah yang telah dijanjikan dan ia sudah pernah ke sana sebelumnya, sudah tidak asing lagi baginya. 

Tapi setelah beberapa minggu tidak melewati jalan ini, Gilar merasakan banyak yang berubah. Lebar jalan tetap sama. Sisi kiri dan kanan jalan? “Suasananya berubah” ia bergumam sendiri. 

Gilar melihat ke arah depan, jalan yang lurus ini ditutupi daun-daun, begitu juga di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan. Angin bertiup dari arah belakang, terasa dingin. Gilar merasa dirinya dilempari daun-daun. Daun-daun yang berguguran dari pohon, daun berwarna kuning, oranye, dan merah,,,,,menerpa rambutnya...jatuh, beterbangan, dan berserakan dimana-mana, di jalan, di halaman, di atap rumah, dan hamper di semua permukaan. Semua tertutup daun yang berguguran. Daun-daun yang berwarna cerah kemilau, didominasi kuning dan jingga. Kini semua jadi terlihat kuning.

Di kiri dan kanan, pohon-pohon telah menjelma menjadi lemah, terombang-ambing oleh angin.

“Kenapa pohon-pohon ini melemparkan daun-daunnya ke arahku, bukankah dia diperlukan untuk fotosintesis, untuk proses pembuatan makanan dan energy?” sebuah pertanyaan terbersit di kepala Gilar. “Ah, semua berubah dikota ini”, Gilar tidak begitu peduli dengan daun dan pohon, dia buru-buru saja melangkahkan kaki…

Gilar membelok ke kanan, di kirinya sebuah pohon oak besar tidak lagi rindang dan hijau, begitu juga pohon-pohon lainnya, “Pohon-pohon ini juga telah berubah” pikir Gilar seraya menoleh ke kanan dan menduga jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan ini.

“Ini adalah pohon-pohon aspen dan di sebelah sana adalah pohon gum” ia mencermati dari bentuk daunnya, dan perubahan warna daun.

“Ranting-rantingnya sudah tidak memiliki daun lagi, sudah gundul dengan cepatnya” Gilar merasakan ada keanehan dengan pohon-pohon itu. 

Ia menoleh ke kanan, inilah rumah yang seharusnya, sesuai dengan alamat yang telah di tentukan. Bukankah ia pernah memasuki rumah ini? Suasana di rumah ini juga banyak berubah, tiba-tiba terdengar suara jeritan pilu dan sesosok bayangan mendekati ke arah pintu. Jantung Gilar hampir saja berhenti berdetak, tapi ia cepat menguasai sekelilingnya, ia berusaha berpura-pura biasa-biasa saja. Sosok yang menyambutnya ini dibalut jubah hitam, matanya merah, dan butiran air mata menetes bercampur darah...merah... lalu ia mempersilahkan Gilar masuk. 

Gilar melangkah menuju ke ruang tengah, beberapa sosok makhluk telah menunggu. Tongkat-tongkat ajaib dan sakti tergeletak di atas meja. Salah satu sosok dengan balutan baju panjang hitam, Gilar menoleh ke arah wajahnya, ia mengenali sosok itu... sosok vampire...membuat Gilar tertegun menelan air liur. 

Di sebelahnya satu sosok makhluk sedang duduk di kursi dengan sebuah tengkorak kepala manusia di pangkuannya dan sebuah boneka kecil voodoo di tangan kirinya. Di sebelah kanannya adalah sosok seperti hantu yang seluruh tubuhnya hijau, dan taring panjang yang terjulur keluar.  Di kanan Gilar ada badut yang bermuka serem, hidungnya yang bulat merah tidak lagi mengesankan sesuatu yang lucu. 

Mereka seperti mendiskusikan sesuatu sejenak, kemudian mereka sepakat meninggalkan bangunan ini. Gilar bisa mendengar obrolan mereka, tidak semua dari perbincangan dapat ia pahami. Namun ia dapat menyimpulkan bahwa mereka akan bergerak ke arah selatan, ke arah keramaian kota…. 

“Bukankah seharusnya mereka ke arah utara, ke hutan kayu sana” Gilar berpikir, sedikit bingung.

Gilar mengikuti langkah mereka, melewati ruangan tamu, ruangan yang penuh dengan perlengkapan magis, voodoo, dan zombie, dan wajah-wajah seram mengintip di antara kaca-kaca jendela. Kemudian mereka melangkah ke jalan….

Sekali lagi Gilar yakin bahwa ia mengenal jalan ini, jalan yang sudah ditempuhnya beberapa kali. Ia menoleh ke sebuah pohon oak, pohon yang paling besar di antara pohon-pohon yang mulai gundul, terlihat batu-batu nisan dan lentera di antara pepohonan. “Sejak kapan batu-batu nisan itu di sana?” Gilar bertanya pada dirinya sendiri.

Mereka terus berjalan, hampir senja, di kanan jalan, di sebuah rumah yang belum menyala lampunya terlihat jaring laba-laba, dan sebuah laba-laba besar menempel merangkak di antara jaring-jaring yang dibuatnya. 

Hantu-hantu putih bergelantungan di antara pohon-pohon kecil, di antara belukar bunga, di antara ranting-ranting kecil. Gilar berpikir, “Sepertinya mereka adalah hantu baik, barangkali teman-teman Casper.” 

@ Bersambung…..

Monday, October 15, 2018

Kopi Pagi dengan Ekstra Racikan Rempah

Ramuan “brewed” kopi saya: tambahan susu segar, gula, mocha dan es.

Kalau ada di antara teman-teman bloggers yang berpendapat bahwa “hidup itu laksana secangkir kopi.... tergantung bagaimana kamu membuatnya”,.... maka kalau tidak mau hidup itu kecewa maka buatlah (atau jadikanlah) kopi itu senikmat dan sesedap mungkin.

Ternyata menikmati kopi yang sedap saja tidak cukup. Tapi bagaimana minuman yang pertama kali kita reguk setelah bangun dari tidur untuk menyemangati hari-hari kita selanjutnya itu juga sehat dan tidak memberikan kebosanan karena rasanya yang itu dan itu lagi. 

Hakikatnya, saya juga terjangkit candu “addiction” minum kopi setiap pagi, saya sukanya kopi hangat ditambah sedikit gula. Tapi sekarang kopi pagi-nya di “boost” dengan rempah dan bumbu yang ada di dapur, tambahin sejumput keciiiiilll saja....!!!

Kenapa...????

Ini alasannya:
        Tambahin  kayu manis: antioksidan, menurunkan gula darah, juga untuk menurunkan resiko sakit jantung

        Tambahin kapulaga: dulu kapulaga dipercaya sebagai obat untuk berbagai penyakit, sekarang ini di duga memiliki kandungan antimicroba dan bermanfaat untuk menyerang E.coli yang coba-coba masuk ke tubuh kita. Selain itu, kapulaga juga berfungsi sebagai penyegar nafas alami.

        Tambahin bubuk cabe atau yang di kenal cayenne: bermanfaat untuk mendongkrak selera makan dan juga buat sirkulasi. Paling cocok buat pencinta pedas. Kandungan Capsaicin dalam bubuk cabe ini juga bermanfaat untuk meredakan rasa sakit.

        Tambahin coklat bubuk: anti inflammatory dan antioksidan, juga menjaga kestabilan tekanan darah dan keseimbangan kolesterol.

        Tambahin jahe (kalau suka, tambahin kunyit juga boleh): anti inflammatory and antioksidan.

        Tambahin vanilla bubuk: anti oxidant, anti-inflammatory and anti-carcinogenic (anti kanker).

        Tambahin madu lebah: energi.

        Tambahin susu: udah pasti vit D

Dan di atas adalah foto ramuan “brewed” kopi saya, kopi dengan tambahan susu segar, sedikit gula, sedikit mocha, dan es...... Yup, kali ini pilihannya es kopi....






Friday, October 12, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian 3)

Illustration, credit to Kingdom Bloggers

“Mas, lagian bukannya paspor kita udah ndak diperpanjang, Mas bilang kita ndak perlu ikut-ikutan bertravel-travelan atau OTW-an ke luar negri.” Nayla mengingatkan. 

Nayla selalu berusaha jadi istri yang idam-idamkan dan istri yang baik sesuai dengan konsep dan keyakinannya, salah satu konsepnya adalah seorang istri yang baik itu harus manut ke suami dan tidak banyak menuntut. 

Saat ini Nayla merasa dipersalahkan dan ia tidak bisa menerimanya. 

Perasaan sedih dan kesal bercampur, setiap kali ia mengambil cuti libur dari kantor hanya untuk berkumpul dengan keluarga di rumah. Sesekali ia menyibukkan diri dengan media sosial, fesbuk, memasukkan foto masakan, bunga, dan status ”staycation asiiikk ;)” dan dengan senang hati ia meng-like atau meng-love, dan meng-komen teman-teman yang lagi jalan-jalan, menikmati udara, angin, bunga-bunga, salju, bangunan, minuman, dan makanan nun jauh di luar sana. Terbersit juga rasa iri untuk bisa menikmatinya, “liburanku hanya sebatas dinding rumah dan dinding pagar” pikirnya. 

Terdengar seseorang mengetok pintu. Tenyata dokter yang datang. Nayla menyambutnya dengan ramah, berbeda dengan suaminya yang memperlihat ekspresi wajah tidak puas dan sedikit cemberut. 

Nayla menyampaikan terimakasihnya ke dokter atas usahanya dan sarannya untuk “kelanjutan” usia suaminya. Sambil bercanda Nayla mengungkapkan keluhan suaminya tentang berobat di Singapore itu jauh lebih unggul, seperti yang yang mereka berdua perdebatkan dengan contoh kasus Pak Teguh, teman satu kantor suaminya. 

“Sepulang operasi di rumah sakit Singapur, Pak Teguh disarankan untuk meningkatkan aktifitas seks, tapi kenapa dokter tidak menyarankan yang sama terhadap suami saya, justru sebaliknya, yang membuatnya sangat cemas dan kuatir. Kenapa pengobatan di Indonesia dan di Singapur tidak sama?” dengan muka merah Nayla berusaha membantu suaminya untuk menyampaikan ketidakpuasan pengobatan dan terapi yang dia harus lalui. 

“Pak Teguh-nya operasi apa?” dokter balik bertanya. 

“Kanker prostat.” Nayla menjawab. 

Dokter diam sejenak, dia harus dapat meyakinkan kalau pasiennya harus mengerti permasalahan penyakit dan pencegahan sehingga tidak terjadi apa yang tidak diinginkan. Kemudian doker menjelaskan dengan panjang lebar perbedaan penyakit, perlakuan, dan terapinya. 

Dari penjelasan itu Nayla berusaha memahami dan akan mengingatkan suaminya kalau saja suaminya lupa dan mengeluh lagi terhadap hal yang sama. 

Ya, setelah operasi kanker prostat, seperti yang dialami Pak Teguh, memang disarankan untuk meningkatkan aktifitas hubungan seks. Kemampuan untuk mencapai kepuasan seks adalah dianggap sebagai alat untuk mengukur kwalitas hidup yang menentukan apakah harus ada terapi untuk berikutnya karena seks dianggap sebagai bagian penting dari sebuah kehidupan. 

Jadi suksesnya operasi prostat ini diukur dengan kehidupan dan aktifitas seks, berbeda halnya dengan masalah jantung. Kasus terapi untuk Pak Teguh sangat berbeda dengan kasus sang suami, bukan karena di Singapore atau di Indonesia-nya, 

Seorang dokter memang cerdas dan memahami pasiennya, kecemasan untuk tidak ada aktifitas seks ini justru yang akan membuat pasiennya dapat serangan jantung. 

Selain obat yang memang harus ditebus di apotik, akhirnya sang dokter mengeluarkan resep umum buat penderita jantung angina. ”Kalau Bapak bisa naik tangga dari lantai satu ke lantai dua, itu artinya Bapak bisa melakukan hubungan seks sama Ibu.” Dokter itu tersenyum serius.

@ Selesai….

@@ Cerpen berikutnya tentang Halloween.





Saturday, October 6, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian-2)

Ilustrasi Deste

Dokter menyarankan untuk “abstain” melakukan aktivitas yang mengerahkan tenaga atau stress sampai suami kembali ke cek up berikutnya, termasuk aktivitas rutin suami-istri, dokter mengistilahnya aktifitas seks, dikhawatirkan suplai darah yang mengandung oksigen ke jantung akan berkurang,

“Ya, Allah, KUTUKAN apa yang Kau berikan kepadaku?” terdengar lagi suaminya menjerit tertahan.

“Apa lagi ini?” Nayla menggumam, kenapa suami yang dihormatinya itu merasa terkutuk?

“Saran dokter aku abstain dari aktifitas sex.” Suaminya berkata.

“Terus di mana masalahnya?” Nayla bertanya.

“Abstain.” Terdengar nada suara suaminya sedikit naik.

“Emang kenapa?” Nayla bertanya lagi.

“Kamu tau apa artinya? Artinya Mas harus puasa” suaminya berkata dengan muka sedikit kecut,

“Nayla...hilang sudah..., aku sudah ndak mampu lagi. Sudah tidak ada lagi gunanya aku hidup” dia masih meneruskan kalimatnya.

Dokter memang mengatakan bahwa pasien dengan angina ini menderita sedikit penyempitan, sehingga ada perasaan tidak nyaman selama pengerahan tenaga, tidak cukup oksigen ke jaringan jantung dan kekurangan oksigen inilah yang dirasakan sebagai sakit dibagian dada.

Karena suami Nayla punya pengalaman angina sewaktu berjalan dan menaiki tangga, dokter merasa penting untuk berbicara dan mendiskusikan aman atau tidaknya untuk melakukan hubungan sex. Dokter juga mendiskusikan obat yang akan di minum untuk jantung dan yang mana tidak boleh diminum selama pengobatan ini, terutama obat-obatan dan jamu-jamuan unggulan untuk problem ereksi, kalau digunakan bersamaan akan menyebabkan dropnya tekanan darah.

“Ooo, begitu ya. Itu artinya Allah itu memperhatikan dan sayang padamu, Mas.” Nayla meneruskan, berusaha menenangkan suami yang dikasihinya itu, “Itu bukan kutukan, tapi Allah itu akan menaikkan martabat Mas”

“Martabat apaan?”suami sedikit mengeluh.

“Ya martabat, bisa jadi martabat hidup, martabat karir, martabat keluarga, yaaaa, maksudnya barangkali Allah akan menaikkan marwah, pangkat, kehormatan, reputasi, atau moral mu Mas.”

“Mungkin sebenarnya ada terbersit dihatimu ikutan trending?” tiba-tiba Nayla berkata.

“Trending? Trending apaan?” Suaminya penasaran.

“Trending untuk punya “simpanan”-lah, “bawah tangan”-lah, “nikah siri”-lah,” kata-kata itu begitu saja keluar dari mulut Nayla, hanya untuk menggodanya.

Upps, ratusan kerut kening terbentuk dan dua alis mata suaminya yang tidak begitu tebal menyatu. Nayla tergelitik untuk senyum melihatnya, tapi ini bukan waktu yang tepat, kondisi dan situasi saat ini sangat rentan. Masalah ke-jantan-an dan ke-perkasaa-an selalu memberikan dampak negatif, dan Nayla tidak ingin dia mengalami krisis kepercayaan diri.

Suaminya bersuara lagi... Dia melanjutkan rintihannya....rintihan yang yang sama....tapi, sepertinya dia kini menyesalinya, ”Kenapa Mas ndak dibawa ke rumah sakit Singapur saja?”

“Emang kenapa, dokter kita pinter gitu koq, fasilitas untuk diagnosa dan pengobatan juga bagus, rumah sakitnya bersih, perawatnya cantik-cantik dan ramah, Mas juga kelihatan jauh lebih baikan.” Nayla meyakinkan ke suaminya bahwa tidak ada yang salah dengan tindakan dan pilihan untuk memilih pengobatan dan terapi di sini.

Suami masih saja berdalih bahwa rumah sakit dan dokter di Singapore itu lebih baik. Tapi suaminya lupa bahwa mereka tidak memperpanjang paspor.

@ Bersambung…….


Monday, October 1, 2018

Nayla, Akan Kunaiki Tangga Itu (Bagian-1)

Ilustrasi, foto dari Keuka-Studios.com

Nayla memiliki firasat bahwa hari ini merupakan hari yang akan tidak menyenangkan. Tentu saja, bagaimana tidak, kalau suami sekarang terbaring di rumah sakit. Untung saja lalu lintas di jalan tidak ramai, dari kantornya ke rumah sakit tidak begitu macet, dan ia sempat singgah untuk membeli “beef spaghetti” kesukaannya, dan beberapa jenis kue basah kecil untuk dirinya dan suaminya. Ia belum sempat makan siang. 

Dia mendorong pintu yang terbuka sedikit tercelah, matanya tertuju ke beberapa “flower bouquet” (buket bunga), kartu ucapan cepat sembuh, dan buah-buahan, mestinya teman sekantor suaminya baru saja bezuk. 

Suaminya menyambutnya dengan rentangan kedua tangan kearahnya, Nayla mengerti, seperti biasanya ia bergegas ke arah suaminya memberikan pelukan hangat dan ciuman kecil. Tapi kali ini erat sekali dekapan suaminya, seolah tidak bertemu dalam beberapa dekade. 

Nayla berpikir, bahwa firasatnya meleset. Tidak ada sesuatu yang buruk. Suami OK-OK saja. 

Dia teringat makanan yang dibelinya, dia meregangkan pelukan, berusaha bangun untuk berdiri dan beranjak ke arah makanan. Nayla berpikir, mungkin mereka bisa menyantap berdua.

Tiba-tiba… 

Nayla mulai merasakan ada kejanggalan. Ada sedikit perubahan di wajah suaminya. Dia berusaha menetralisirkan suasana, seperti tidak merasakan apa-apa. Dia tahu seorang pasien sakit jantung seperti suaminya ini harus dijaga kestabilan baik fisiknya dan emosinya. 

“Ya Allah..., ampunilah dosa-dosaku… Ya Allah … Ya Allaaaah … Ya Rab...Engkau Maha Besar … Engkau Maha Penyayang...” suaminya seperti merintih. Nayla mendiaminya, barangkali saja dengan cara ini suami bisa meredakan rasa sakitnya. 

Minggu pagi itu, Nayla dan suaminya ikut jalan pagi, tiba-tiba suaminya seperti begitu terengah-engah, dan merasakan beban yang sangat berat menghimpit dadanya, tubuhnya sangat pucat, dan langsung dibawa ke gawat darurat. Beberapa tes telah dilalui, EKG dan stress tes, hari ini dilakukan tes yang lebih invasive, coronary angiography. Tes untuk memastikan dugaan tentang yang dialami suami Nayla, angina. 

Masih jelas di kepala Nayla, waktu dokter membuat torehan sayatan kecil di paha suaminya yang terbaring di meja radiograf, tubuh yang tergeletak di antara fluoroscope dan x-ray imaging. Tubuh yang di telah ditenangkan oleh sedative melalui cairan infus dilengannya, dan bagian paha yang telah disuntikkan bius lokal. 

Sebuah pipa plastik yang sangat kecil dimasukkan ke torehan di kulit yang terhubung ke pembuluh darah arteri di paha suaminya. 

“Pipa kecil itu seperti satu untai spaghetti ini” pikir Nayla sembari membuka kontainer beef spaghetti. Dokter menyebutnya catheter, spesifiknya catheter angiography. 

Catheter dipandu ke arah pembuluh darah koroner, yaitu arteri di bagian luar jantung yang mensuplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh otot jantung untuk berkontraksi, sehingga jantung bisa memompa darah ke seluruh penjuru tubuh. Melalui pipa atau catheter tadi, disuntikkan zat kontras yang berfungsi untuk menangkap imej oleh x-ray atau ionizing radiation. Dari imej yang dikirim ke monitor komputer, dokter dapat mendiagnosa kemungkinan penyumbatan oleh plak (sejenis lemak) dan penyempitan di pembuluh koroner suaminya. 

Dari imej yang terekam atau istilahnya angiogram, dokter menjelaskan bahwa penyempitan pembuluh koroner di jantung suami Nayla ini tidak begitu parah, sehingga tidak perlu dimasukkan balon yang ditiupkan ke pembuluh darah yang menyempit tersebut, atau stent, sejenis jaring-jaring yang sanggup meluruhkan plak sehingga suplai darah ke jantung tidak terblokir dan tetap terpenuhi.  

Balon dan stent ini berfungsi untuk mengatasi sakit jantung koroner, serangan jantung mendadak, stroke, atau penebalan otot jantung (cardiac myopathy). Dokter menjelesakan bahwa suaminya itu terkena angina, stable angina pectoris. 

@ Bersambung……..