Saturday, September 25, 2021

Psychiatric 17. Obsessive compulsive disorder dan teori penyebabnya

 


Saat pikiran yang ada di kepala kita berlebihan, terus-menerus, dan tidak diinginkan, pikiran ini bisa menjadi sebuah obsesi, yang juga bisa menyebabkan cemas dan distress.


Obsesi tidak di bawah control seseorang dan tidak konsisten dengan pola umumnya pikiran seseorang. Obsesi yang dialami penderita biasanya, takut terkontaminasi sehingga bebersihan melulu, keraguan yang tidak ketulungan, kepikiran menyakiti seseorang, dan kepikiran imej seksual.


Rutin merupakan bagian dari aktifitas sehari-hari. Bangun tidur tiap hari dengan kegiatan rutin di pagi hari membantu kita lebih produktif. Saat rutin menjadi ritual dan mengganggu aktifitas normal sehari-hari, rutin ini menjadi kompulsif atau compulsion.


Contohnya, mengunci pintu-pintu sebelum meninggalkan rumah adalah rutin, tapi kalau kepikiran dan bolak balik buat ngecek, apa benar pintu terkunci hingga telat kerja atau sekolah, ini menjadi compulsive. Begitu juga cuci tangan yang berulang-ulang karena takut terkontaminasi, dan menata atau menghitung sesuatu berulang-ulang.


Bagaimana bisa terjadi OCD ini? Banyak studi yang berminat mencari tau kenapa seseorang bisa menderita OCD, di antaranya:

 

Ilustrasi: Five weeks in PTB5

Menurut teori biologi, OCD disebabkan oleh basic biologi yang berkaitan dengan beberapa struktur neurotransmitter.


Berdasarkan ahli genetic, orang-orang penderita OCD juga memiliki hubungan darah langsung dengan penderita OCD atau dengan pendeita Tourette syndrome.


Menurut teori neurophyhologi, penderita OCD memperlihatkan hyperactivity pada orbitofrontal corteks, anterior cingulated corteks, dan caudate nucleus. Meningkatnya cerebral metabolisme glukosa otak bisa menyebabkan tingkah laku yang kompulsif.  Abnormal repetitive tingkah laku ini didorong oleh tidak berfungsinya sirkuit cortico-striatal-thalamik-corteks.


Berdasarkan teori biokimia, serotonin berperan penting dalam OCD.


Teori psikologi, teori psikologi mempelajari berbagai literatur tentang OCD dan menemukan bahwa kognitif behavior therapy dapat mengurangi keparahan OCD.


Psycodinamik factor. Teori ini mempercayai bahwa gaejala dan karakter OCD muncul dari 3 unconscious defense mechanism, yaitu isolation, undoing, dan reaction formation.


Teori behavior, mengungkapkan bahwa OCD berasal dari learning teori. Obsesi dilihat sebagai conditioned stimuli.



2 comments:

  1. Kalau berlebihan memang tidak baik ya

    Dari yang sekadar make sure jadi malah parno

    ReplyDelete
  2. Aku juga pernah seperti itu, misalnya pas tidur malam bingung, apakah pintu sudah terkunci dengan benar atau jangan-jangan aku lupa mengunci. Lalu aku cek untuk memastikan. Tapi hanya sekali sih, kalo sudah terkunci lalu tidur.

    Apa ini gejala OCD juga mbak?

    ReplyDelete

@eerlinda2005